Semangat Mereka Tetap Sama, Mengajar di Landau Kumpai, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat - Catatan 3 Februari 2014
.....
Sejak November 2012 yang lalu, Desa Wayatim selalu menyambut pagiku dengan desiran ombak, berselimutkan indah cahaya matahari terbit. Anak-anak berkharakter timur yang sangat lincah dalam tingkah dan tutur selalu menjadi semangat serta inspirasiku untuk mendidik hari demi hari. Aku amat sangat bahagia mengenal mereka dan aku bangga bisa menjadi bagian dalam hidup mereka. Setahun dua bulan bersama mereka sungguh tak terasa, seakan aku baru saja belajar mengenal sisi kehidupan mereka, menghirup segarnya udara tepi laut mengelilingi pulau kecil, menikmati suasana segar pegunungan serta memaknai indahnya kehidupan bersama mereka. Setiap harinya memberi makna tersendiri dalam kebersamaan, sungguh pengalaman yang sangat berharga bisa berada di tengah-tengah mereka. Hari teruslah berlalu dengan berbagai perjuangan memajukan pendidikan bersama. Berbagai macam prestasi mereka raih dengan usaha dan perjuangan yang tak ternilai. Anak-anak menjadi sangat berprestasi, dan mereka sanggup membuktikan bahwa berada di desa terpencil bukanlah halangan bagi keberanian dan tekad mereka untuk terus maju. Ada yang berhasil bersaing dalam semifinal Ilimpiade Sains KUARK, ada yang berhasil menjadi perwakilan Provinsi Maluku Utara dalam Konferensi Penulis Cilik Indonesia di Jakarta, dan ada pula yang berhasil menjadi delegasi Maluku Utara dalam Gerakan Sejuta Bola di Jakarta. Peristiwa demi peristiwa terukir indah dalam karya kehidupan yang begitu mermakna.
Tepat pada tanggal 30 Desember 2014 yang lalu, aku pun secara resmi menyelesaikan tugas dan tanggungjawabku sebagai seorang Pengajar Muda di SD Negeri Wayatim, Kecamatan Bacan Timur Tengah, Kabupaten Halmahera Selatan. Tugas dan tanggungjawab ini seterusnya dilanjutkan oleh seorang Pengajar Muda Angkatan VII yang akan menyelesaikan masa penugasannya untuk setahun ke depan. Berjuta makna dan nilai kehidupan yang aku timba selama 14 bulan masa penugasanku sungguh menjadi bekal yang luar biasa bagiku demi menjalankan tanggungjawab di kehidupan yang sesungguhnya. Aku bersyukur dan sungguh berterimakasih atas segala kebersamaan yang siswa-siswi serta masyarakat Desa Wayatim berikan selama masa penugasanku. Mereka sungguh keluarga yang sangat tulus menerimaku dan memberiku pelajaran hidup yang luar biasa. Sampai kapan pun mereka akan tetap menjadi bagian dalam hidupku dan semangat serta cinta kasih mereka akan selalu menopang langkahku untuk melanjutkan tugas-tugas demi Bangsa Indonesia tercinta ini.
Hari-hari setelah menyelesaikan tugas dalam Gerakan Indonesia Mengajar adalah masa transisi yang luar biasa bagiku. Dari Desa Wayatim, aku langkahkan kaki ke Labuha, Ibu Kota Kabupaten Halmahera Selatan. Beberapa hari di sana aku manfaatkan untuk bersilaturahmi dengan keluarga di kota yang juga senantiasa menjadi penyemangatku selama 14 bulan masa penugasan. Setelah itu aku beranjak ke Ternate dengan tetap mengenang semua rasa yang mengiringi langkah ku dari satu tempat ke tempat lainnya. Meskipun demikian, suasana timur yang khas di kota Ternate dengan pantainya yang indah tetap membuat hatiku bersahaja untuk menikmati nuansa kepulauan negeri kita tercinta ini. Di Ternate, aku menghabiskan sore hari di tepi pantai nan damai dengan bisikan ombak yang seolah mengungkapkan berjuta kata semangat untukku. Setiap sudut kota terasa begitu menyentuh benakku dan meyakinkanku bahwa suatu saat nanti aku akan tetap kembali ke tanah Maluku dan bersua dengan sanak saudaraku di kota kanari ini.
Tibalah tanggal yang ditetapkan oleh Tim Indonesia Mengajar, di mana mereka menarik seluruh pengajar muda angkatan ganjil dari berbagai penempatan untuk kembali ke Jakarta dan melaksanakan OPP (Orientasi Pasca Penugasan). Aku melaksanakan OPP selama satu minggu dengan berbagai macam ‘bingkisan’ bekal untuk melanjutkan kehidupan yang sesungguhnya. Berbagai macam refleksi pun ku ikuti dengan penuh penghayatan. Selama masa OPP, Indonesia Mengajar dengan sangat telitinya membuka wawasanku akan peluang yang siap untuk dijalankan selanjutnya seusai masa penugasan ini.Sungguh aku bersyukur dan berterimakasih untuk boleh menjadi bagian dalam Keluarga Besar Gerakan Indonesia Mengajar. Walaupun gerakan ini bukanlah gerakan yang besar, namun aku yakin bahwa seberkas cahaya yang diberikan bisa menyalakan lilin pengharapan bagi setiap anak didik di desa penempatan para Pengajar Muda. Hal yang paling diharapkan oleh Gerakan Indonesia Mengajar adalah adanya keberlanjutan semangat serta nilai yang ditanamkan dengan munculnya berbagai macam gerakan serupa yang sungguh menjunjung tinggi integritas dalam mendidik putra-putri Bangsa Indonesia. Setiap pengajar muda pun diharapkan tetap menjadi penggerak di mana pun mereka berada. Aku dengan penuh semangat melangkahkan kaki untuk tetap mengabdi pada Bangsa Indonesia dalam setiap tugas yang ku emban, dalam bidang apa pun. Semangat dan nilai yang ditanamkan selama aku menjadi Pengajar Muda akan selalu menjadi landasan bertugas dengan hati di langkah hidupku selanjutnya.
Aku pun mulai nanamkan kembali semangat untuk berkarya di suasana baru dengan kembali ke desa asalku di pengununan Kalimantan Barat setelah 14 bulan menjalankan tugas dan menimba semangat kehidupan di desa kecil dengan keindahan lautnya. Di Kalimantan, aku menyelami lebih dalam lagi mengenai segala nilai yang aku dapatkan semasa penugasanku, mencoba menyelaraskan nilai tersebut dengan keadaan di desaku sendiri. Selama bertugas, keadaan desa kelahiran selalu membuatku berfikir untuk tetap berkarya di dalamnya pada saat yang tepat nanti. Aku sungguh bersedia menjadi alat Tuhan di mana pun aku berada, karena aku yakin rencana Tuhan lah yang mengatur setiap langkah ini.
Untuk sampai ke kota kecil di mana aku dibesarkan, dengan pesawat aku tiba di Pontianak dan melanjutkan perjalanan darat selama kurang lebih 10 jam karena jalan yang sangat kurang mendukung kelancaran transportasi. Sesampainya di Kalimantan, ada banyak agenda keluarga yang menjadi wajib bagiku seusai penugasan ini. Aku pun pulang ke desa kelahiran, dengan transportasi darat selama kurang lebih 5 jam dengan keadaan jalan yang masih sangat butuh perhatian dan dilanjutkan dengan perjalanan di Sungai Sekadau dengan motor air selama kurang lebih 1 jam lamanya. Sesampainya di Desa Landau Kumpai, aku mendoakan 1000 hari kepergian sang kakek tercinta. Di sana aku menyediakan waktu penuh untuk mengajar di sekolah satu-satunya di desa yang dulu juga menjadi sekolah Ibuku, SD Negeri Landau Kumpai.
Sesampainya di sekolah tersebut, aku pun bergegas menyapa anak-anak yang pada saat itu sedang duduk berpencar, ada yang di depan kelas, ada yang di lapangan berumput, dan ada pula yang di bawah pohon cemara. Mereka duduk santai baik sendiri maupun berkelompok dengan membawa sarapan pagi di tangan masing-masing. Namun, yang menjadi sangat khas dalam sesi sarapan pagi ini adalah setiap anak memegang buku yang akan mereka baca sebelum lonceng apel pagi berbunyi. Sungguh, keceriaan dan semangat mereka dalam menggali ilmu sedalam mungkin meredakan rasa rinduku dengan anak-anak didik di Halmahera Selatan. Aku sungguh merasa bahwa semangat dan keceriaan anak-anak ini lah yang senantiasa menggugah nuraniku untuk tetap berada bersama mereka. Kepala sekolah beserta dewan guru menerima kedatanganku dengan penuh kehangatan.
Satu per satu pertanyaan mereka lontarkan untuk mendengarkan cerita kecil dari Halmahera Selatan. Mereka sangat terkesan dengan semangat anak didik dan juga semangatku sebagai puteri daerah untuk siap berada bersama anak-anak negeri di Timur Indonesia. Mereka mulai mengenal Gerakan Indonesia Mengajar, dan mereka pun memahami nilai ketulusan mendidik yang sangat penting untuk dijaga dalam menjalankan tugas mulia ini.
Guru-guru di desaku merupakan guru-guru yang berasal dari desa itu sendiri dan aku sungguh bangga pada mereka. Setiap kelas memiliki guru kelas dan ada guru bidang studi lengkap di sana. Desaku juga berada cukup jauh dari ibu kota kabupaten, tanpa signal dan listrik di desa, namun guru-guru di sini sangat hebat dan berhasil mencerdaskan banyak anak di desa Landau Kumpai dan sekitarnya. Hal ini terbukti dengan murid kelas 1 sudah lancar menulis, berhitung, membaca dan menggambar. Murid kelas 6 sangat handal dengan mata pelajaran yang mereka pelajari. Buku paket dengan kurikulum KTSP menjadi milik mereka satu per satu dengan tanpa pungutan biaya. Mereka pun selalu mengerjakan PR dengan buku-buku yang mereka miliki dengan penuh semangat dan tanggungjawab. Aku sangat bahagia melihat kemajuan pendidikan di desaku, dan aku bersyukur karena kesadaran mereka akan kemajuan pendidikan sangatlah tinggi. Aku pun mendapatkan kesempatan berharga dari kepala sekolah untuk memimpin apel pagi, memperkenalkan diri serta membagikan sedikit inspirasi kepada mereka sebagai sesama putera-puteri Landau Kumpai. Murid-murid beserta seluruh dewan guru sangat menikmati salam semangat yang kusampaikan dari Desa Wayatim, di Halmahera Selatan. Aku pun kemudian dapat masuk ke setiap kelas mulai dari kelas 1 sampai kelas 6 untuk berbagi waktu mengajar bersama anak-anak didik di SD N Landau Kumpai. Yang paling berkesan adalah kesempatan yang diberikan kepadaku untuk mengajar Bahasa Inggris di kelas 6. Memang, mereka belum memiliki guru Bahasa Inggris dan mereka pun belum pernah sama sekali mendapatkan pelajaran Bahasa Inggris, namun ketika Kepala Sekolah memberiku kesempatan untuk mengajarkan Bahasa Inggris seusai jam istirahat, anak-anak menjadi sangat senang dan bersemangat. Mereka pun dapat menguasai beberapa ucapan salam dan perkenalan dalam bahasa Inggris dengan lancar. Aku sangat bahagia melihat senyum mereka sepanjang belajar Bahasa Inggris dengan membuat kreativitas menarik yang bertuliskan salam dan perkenalan sederhana. Mereka sangat ingin melihat teman-teman baru mereka di Wayatim dan mereka pun menikmati film dokumenter mengenai semangat belajar anak-anak di Desa Wayatim yang diabadikan oleh Net TV.
Bahagia mereka sungguh membuatku lebih sadar bahwa setiap hal yang dilakukan dengan hati dan niat tulus akan selalu memberi nilai kehidupan berharga. Mereka sungguh membuat ku yakin bahwa harapan untuk Indonesia yang lebih maju dan bebas dari segala hal yang tidak diinginkan masih akan terus tumbuh seiring munculnya satu per satu pemimpin Indonesia yang sanggup berkarya sekuat hati demi bangsa tercinta ini. Dalam hidup ini, kekayaan terbesar yang ku nikmati adalah ketika aku bisa menanam dan menuai sedikit nilai dan ilmu yang bisa menjadi bekal anak didikku kelak di saat mereka siap untuk turun tangan membangun Indonesia dengan hati nurani dan ketulusan. Merekalah yang akan meneruskan langkah perjuangan para pemimpin bangsa. Kunci keberhasilan ini adalah guru-guru yang saat ini sedang bertugas dengan sepenuh hati dan ketulusan. Guru-guru adalah pahlawan yang bertanggungjawab akan tumbuh jiwa, nurani dan karakter mereka di masa mendatang. Guru adalah pekerjaan mulia dan insan terpanggillah yang mengemban tugas dan tanggungjawab mulia itu. Seperti yang tertera dalam bukunya, “Karakter Mengantar Bangsa dari Gelap Menuju Terang”, Soemarno Soedarsono (2009) menuliskan Bung Karno pernah mengatakan bahwa Bangsa Indonesia harus dibangun dengan mendahulukan pembangunan karakter karena inilah yang akan membuat Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar, maju dan jaya serta bermartabat.
Semangat mengabdi pada seluruh guru yang bertugas. Semangat membangun karakter bangsa ini. Semoga Tuhan selalu membalas setiap benih yang kita tanam di dunia ini dengan segala ketulusan dan perjuangan dari hati yang kita lakukan. Amin. Salam Semangat Indonesia.
_Angela Aci_










Komentar
Posting Komentar