Mengejar Mimpi untukMu, Indonesia - Catatan 8 Juni 2015
Keinginan besar dari dalam hati menuntun saya untuk berani mengambil langkah mengejar beasiswa seusai menyelesaikan tugas dalam Gerakan Indonesia Mengajar. Sembari menunggu mendapatkan beasiswa, saya mencoba mencari pengalaman bekerja di sebuah BUMN di Jakarta Pusat. Bekerja di sana tak hanya memberikan saya pengalaman berharga mengenai pekerjaan di luar bidang pendidikan saya, namun juga dapat membuka wawasan mengenai aspek lainnya yang harus diperhatikan secara detil dalam keberhasilan, di antaranya relasi, keadaan sosial politik lingkungan kerja, serta berbagai perubahan aspek lain yang pastinya akan memberi dampak baik positif maupun negatif terhadap pekerjaan yang sedang kita tekuni.
Satu hal yang dapat saya simpulkan adalah di mana pun kita bekerja, apa pun yang kita kerjakan, bagaimanapun cara kita mengerjakannya, percayalah 'they are never flat, life is never flat', semua tergantung pada sudut pandang kita yang seharusnya tidak hanya berada pada satu titik untuk menyelesaikan pekerjaan kita. 'Be creative, be brave to try a new way of life, or just be innovative', ini akan membuat kita lebih memahami bagaimana cara menyukuri segala hal yang telah dicapai dan meningkatkan 'the quality of life', kuncinya adalah seperti yang ada pada sebuah film yang sangat menginspirasi, Cinderella, yaitu ‘to live and reach our dreams is just as simple as to have courage and kindness'.
Saya selalu berusaha jujur kepada atasan saya bahwa bidang yang akan saya geluti adalah tetap bidang pendidikan dan saya akan berusaha mengejar beasiswa. Dengan bersikap jujur, pimpinan pun menjadi lebih memahami posisi saya dan bahkan mendukung saya dengan sepenuh hati. Seusai jam kerja, saya selalu mendapatkan e-mail dari pimpinan mengenai berbagai beasiswa yang dapat saya perjuangkan, terutama dalam bidang yang saya geluti. Syukur kepada Tuhan, dengan usaha, doa serta dukungan orang-orang sekitar, saya memperoleh kesempatan berharga untuk dapat melanjutkan studi di Inggris, melalui beasiswa LPDP, pada bulan Juni 2014, dengan dukungan dari Bapak Anies Baswedan sebagai pendiri Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar.
Perjalanan pun baru saja dimulai, saya mencoba fokus untuk memperoleh universitas, karena masa perkuliahan di Inggris pada umumnya dimulai pada bulan September. Dengan penuh semangat, setelah memutuskan niat hati untuk resign dari pekerjaan, saya langsung mendaftar ke dua universitas dengan predikat bidang Education dan English yang baik, yaitu The University fo York untuk MA in Applied Lingustics for English Language Teaching, dan Durham University untuk MA in Applied Linguistics for TESOL (Teaching English for Speakers of Other Languages). Saya mengambil jurusan ini karena background study saya adalah Pendidikan Bahasa Inggis di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dengan gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.). Selain itu, pengalaman saya selama 1 tahun 2 bulan mengajar di Wayatim, Halmahera Selatan, benar2 membuka mata dan hati saya untuk sedikit berjuang membangun pendidikan dari ujung negeri. Saya prihatin melihat anak-anak yang tidak berguru padahal daftar gurunya banyak dan saya prihatin melihat guru yang tidak mengajar dengan hati. Di sisi lain, saya salut dan bangga pada guru-guru yang bersedia mengajar dengan terus meng-up-date ilmu yang mereka miliki, saya salut dan bangga dengan guru yang bersedia mengorbankan waktu dan tenaganya untuk memberi pelajaran tambahan, saya salut dan bangga pada guru yang menanamkan kejujuran dan integritas serta mencontohkannya. Siswa akan berhasil ketika guru-gurunya berkualitas dan berdedikasi, dan mereka harus di dukung, karena mereka adalah para 'ujung tombak pendidikan'. Semoga para guru yang sungguh mengabdi terus mendapat dukungan penuh di negeri ini.
Melanjutkan studi adalah langkah awal membawa serta mimpi-mimpi anak didik. Saya sangat bersyukur karena pada saat itu, saya mendapatkan dukungan penuh dari Romo Baskara, T. Wardaya dan Ibu Retno Muljani, yang dengan sepenuh hati memberikan saya Letter of References untuk mengejar mimpi saya. Karena terlalu fokus pada jurusan serta mata kuliah yang ditawarkan, saya kurang memperhatikan syarat IELTS yang ditentukan yaitu minimal overall band 7 dengan setiap skill harus dicapai paling tidak 7. Alhasil, saya mendapatkan conditional offers dari kedua universitas dan saya harus segera mengumpulkan hasil IELTS terbaru.
Karena pada saat itu, waktu sudah semakin sempit, saya memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta dengan membawa semua berkas penting yang diperlukan untuk studi saya, di antaranya pasport, rekening, serta berkas untuk persiapan visa lainnya. Saya menyimpan semua berkas menjadi satu di dalam tas gendong saya. Tak disangka, saya kemalingan dan satu tas samping saya lenyap entah ke mana. Bahkan uang sepeser pun saya tak punya, karena rekening saya beserta ATM, dompet, kartu berharga dan semuanya hilang lenyap. Kaget dan bingung yang tak terkira pada saat itu, yang tersisa adalah sebuah HP di genggaman tangan yang sangat berharga pula bagi saya. Meskipun demikian, saya bersyukur karena ada sahabat-sahabat yang selalu menolong saya, terutama Mesa dan juga Mas Edo, yang sekarang menjadi suami saya, yang dengan sabar serta tabah membantu saya mencari jalan keluar untuk menemukan berkas saya ataupun membuat yang baru dan mengikhlaskan semuanya. Setelah beberapa hari merenung dan mengambil pelajaran berharga dari apa yang saya alami di Jakarta, saya memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta dan mulai mengurus semua berkas kembali. Waktu pun berjalan dengan sangat cepat dan sampailah pada Bulan September, pasport saya belum selesai karena saya juga harus mengurus KTP serta berbagai berkas lainnya. Saya merelakan semuanya berlalu dan mimpi untuk studi di tahun 2014 pun tertunda.
Tetap percaya bahwa semua terjadi karena ada rencana Tuhan yang tak terkira, serta pasti ada hikmah di balik setiap hal suka dan duka yang kita alami, cukup menguatkan saya untuk terus melangkah. Tak lama kemudian, syukur kepada Tuhan, LPDP memberikan Program Persiapan Bahasa di Pusat Pelatihan Bahasa UGM selama 6 bulan dengan 2 kali kesempatan test IELTS resmi bagi para peserta LPDP jalur Afirmasi, dan saya berasal dari Kabupaten Sanggau, yang termasuk ke dalam list daerah perbatasan Indonesia. Saya dan teman-teman lainnya dengan sepenuh hati mengikuti program persiapan tersebut agar dapat menembus syarat IELTS universitas yang kami inginkan. Setelah test pertama, hasil IELTS saya masih juga belum memenuhi persyaratan yang diinginkan.
Karena jatah test IELTS tinggal sekali, maka saya memutuskan untuk mendaftar lagi pada University of Birmingham untuk program MA TESOL dan University of Exeter untuk program M.Ed TESOL. Berdasarkan survey, sharing pengalaman serta berbagai sumber yang saya pelajari, universitas ini juga memiliki kualifikasi yang bagus untuk program Education dan English. Sebulan setelahnya, saya mendapat Unconditional Letter of Acceptance dari University of Exeter dan saya sangat bersyukur. Saya langsung mengajukan perpindahan universitas ke LPDP, karena pada saat itu informasi yang saya peroleh dari seorang teman, bahwa perpindahan universitas boleh dilakukan maksimal 2 kali. Saya pikir, lebih baik saya memastikan universitas tujuan studi saya kepada LPDP terlebih dahulu. Beberapa hari kemudian, saya pun mendapatkan Unconditional LoA dari University of Birmingham, dan setelah test IELTS terakhir, saya mendapatkan Unconditional LoA dari University of York dan Durham University pula. Saya berdoa dan berusaha untuk memilih universitas yang saya inginkan, karena semakin banyak mengumpulkan informasi mengenai universitas dan semakin luas sharing yang dilakukan dengan berbagai pihak, maka menentukan pilihan pun menjadi semakin berat. Akhirnya, pilihan saya pun bulat pada Durham University, dan saya mengajukan perpindahan kembali ke LPDP. Tak disangka, e-mail balasan yang saya dapatkan bertuliskan bahwa dalam peraturan LPDP perpindahan universitas hanya boleh dilakukan satu kali saja dan kontrak terbaru saya sudah ditandatangani oleh Direktur LPDP.
Lagi-lagi hal yang tak pernah saya sangka sebelumnya serta perjuangan panjang yang saya lakukan berakhir pada pilihan yang tak disengaja. Di luar itu semua, saya sangat bersyukur atas pilihan di University of Exeter, namun sejujurnya teramat berat bagi saya untuk menolak offers yang telah saya perjuangkan di universitas lainnya. Kembali, saya harus belajar ikhlas dan tetap berjalan di arah yang Tuhan siapkan. Ada banyak hal dalam hidup ini yang tak pernah disangka, namun semua adalah rencana Tuhan. Saya juga tak pernah menyangka kalau saya menikah pada usia 25 tahun, padahal dulu saya merencanakan menikah pada usia 27 tahun (katanya menikah tidak boleh direncanakan, tapi saya tetap nekad merencanakannya :D).
Memilih sang suami pun bukan dengan cara saya, kalau maunya saya (lagi) suami saya paling tidak seperti Bruno Mars maksimal seperti Prince Willian, haha. Tapi karena Prince William menikah dengan Kate Middleton, ya saya ikhlas deh ;p
Melalu perjalanan sederhana ini, saya hanya ingin berbagi pelajaran hidup yang mungkin tak seberapa dibandingkan pengalaman hidup banyak pribadi lainnya, yang bagi saya juga sangat menginspirasi. Percayalah, Tuhan telah mempersiapkan jalan terbaik bagi kita semua seturut apa yang terbaik bagiNya. Terbaik bagi kita, belum tentu terbaik bagi Tuhan. Apa yang kita inginkan pun ternyata tak seindah apa yang Tuhan inginkan terjadi pada kita.
Namun, semuanya tak ada yang mudah, harus tetap berusaha dan berjuang, maka Tuhan lah yang memutuskan segala yang terbaik.
Seorang Romo yang inspiratif pernah menyampaikan kepada saya, bahwa semua yang kita perjuangkan akan terasa lebih mudah apabila dipersiapkan dengan matang dan direncanakan sebaik mungkin dengan terus berdoa dan berusaha. Apabila doa dan usaha masing-masing sudah mencapai 100%, maka saatnya Tuhan bertindak. Jika belum 100% berdoa dan berusaha, maka lakukanlah dulu sampai 100%. Intinya no giving up before reaching 100%.
100% bagi setiap orang juga memiliki standar yang berbeda dan aspek penilaian yang berbeda pula, maka jangan pernah samakan 100% setiap pribadi. Saya sendiri akan bahagia dengan 100% adik saya, 100% sahabat saya, 100% suami saya, serta 100% setiap pribadi di sekitar saya, karena saya juga memiliki 100% sendiri yang saya perjuangkan. Tinggal bagaimana segala 100% ini bersinergi untuk mencapai tujuan bersama berdasar pada cinta kasih Tuhan. Tetap, kita semua ada, hidup dan mati dari Tuhan, karena Tuhan dan untuk Tuhan, begitu pun dengan usaha dan karya yang kita lakukan.
Semangat berjuang dalam hidup masing-masing, semoga Tuhan memberkati setiap usaha, upaya serta niat baik kita semua. Amin.
-Tetap Cinta dan Bangga BerIndonesia-
Angela Aci





Komentar
Posting Komentar