Mengarungi Kelas Kehidupan Indonesia Mengajar - Catatan 21 Maret 2013
“Hidup ini dibuat mudah, jangan malah dibuat susah.”
Inilah kalimat yang seringkali terdengar jelas di telingaku beberapa saat sebelum keberangkatanku untuk mengikuti seluruh persiapan dan penugasan dalam Gerakan Indonesia Mengajar. Ketegaran hati untuk berbagi dan semangat mengabdi di tengah caruk maruknya semangat berjuang tulus bagi Indonesia ini, membuatku mantab melangkah ke Desa Wayatim. Sebuah desa kecil di kecamatan Bacan Timur Tengah, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara, tempat di mana aku akan berbagi inspirasi dan belajar bersama cikal bakal pejuang Indonesia masa depan.
Langkahku berawal dari sebuah pelatihan disiplin yang menempaku dalam bidang kepemimpinan dan pedagogis selama dua bulan. Pelatihan ini memberikan bekal yang luar biasa mermakna bagiku untuk masa penugasanku. Tidak mudah untuk berada di sebuah daerah yang belum pernah terpikirkan sebelumnya, daerah tertinggal yang masyarakatnya masih belum berkembang, serta daerah yang akses untuk memperoleh fasilitas kehidupan sangatlah sulit. Itu sebabnya aku dilatih dengan sangat keras dan penuh kedisiplinan, mulai dari materi pedagogis yang sungguh luar biasa dari para pakar pendidikan, serta pelatihan kepemimpnan bersama beberapa orang terpilih, Wanadri dan Kopasus.
Sejujurnya, aku adalah salah satu Pengajar Muda yang berlatar belakangkan pendidikan. Namun, dalam pelatihan ini, semua pasokan pedagogis yang kuperoleh merupakan hal baru. Pendidikan di Sekolah Dasar adalah kunci kesusksesan dalam pendidikan selanjutnya. Metode mengajar yang sangat memahami keadaan belajar anak sangat ditekankan dalam penyampaian materi pembelajaran. Yang membuat semua hal baru bagiku adalah, selama kuliah yang ku peroleh adalah berbagai macam teori mengajar dan belum sempat terpraktekkan olehku. Namun, dalam pelatihan ini, tidak ada lagi teori, aku langsung dicekoki dengan berbagai praktek pembelajaran yang sungguh menerapkan semua teori dan metode mengajar yang telah kupelajari. Aku seperi tertampar dan sungguh tersadarkan akan cara mendidikku yang kurang tepat selama ini, dengan hanya berfokus pada materi dan mengejar target pembelajaran. Namum kali ini yang ditekankan adalah pemahaman materi secara mendalam yang diterima oleh anak dengkap dengan nilai yang terpaut di dalamnya dengan menggunakan berbagai macam metode dan pendekatan yang tepat dan disesuaikan dengan kemampuan anak.
Dalam aspek kepemimpinan dan ketahanan diri, aku belajar banyak hal dari para pejuang tulus di Indonesia yang justru sulit untuk bergerak karena ketulusan itu. Saat ini, ketika kita dengan tulus dan jujur mengabdi pada Indonesia, maka yang ada hanyalah penyingkiran. Orang yang tulus, jika tidak menegaskan diri akan terus tersingkir. Aku belajar banyak keberanian mengabdi dengan tulus dari mereka, bahwa ketika kita benar jangan takut untuk memperjuangkan kebenaran itu, karena tanpa kita sadari kebenaran yang tulus itu menular.
Selain itu, aku memperoleh pengalamaman mempertahankan diri yang luar biasa dengan berada selama 6 hari di sebuah hutan dan tempat pelatihan bersama Kopasus dan Wanadri, tanpa bekal dan bertahan hidup dengan apa pun yang kami peroleh di hutan. Berjalan mendaki gunung dan menuruni lembah sangat jauh dengan berjalan kaki dan tanpa bekal makanan sedikit pun, membuatku sungguh tegar dalam menghadapi hidup dan bersyukur dengan segala yang telah kuperoleh selama ini. Sungguh berat, namun tidak ada kata menyerah, aku terus melangkah maju dan berjuang untuk mempertahankan hidup. Itulah hal yang akan selalu dilakukan makhluk hidup, mempertahankan hidup dalam kondisi apapun, dengan cara apa pun.
Setelah melalui tahapan pelatihan dan pembekalan ini, kini saatnya bagiku untuk menimba dan menyerap semua pembelajaran hidup dalam kelas yang kupilih, yaitu kelas kehidupan.
Perjalanan menuju tempat penempatan pun aku lakukan dengan penuh semangat, berawal dari sebuah upacara hikmat di Lapangan Udara Soekarno-Hatta. Dengan mengikuti upacara ini, aku sungguh ditegarkan oleh semangat perjuangan Bung Karno-Hatta dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Dan kini, tiba saatnya bagiku untuk melunasi janji kemerdekaan itu, yaitu ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’ dengan mendidik putra-putri bangsa di pelosok tanah air yang masih belum tersentuh hak yang sama dengan mereka yang berada di kota-koota besar. Mereka belum merdeka, kalau bukan kita, siapa lagi yang peduli dengan hak mereka untuk memperoleh pendidikan yang merdeka? Pendidikan yang merata adalah dasar penting kemajuan dan kemakmuran kehidupan di Indonesia. Inilah tugasku, tidak untuk menyelesaikan semua permasalah pendidikan yang ada, tapi menyebarkan ketulusan mengabdi pada Indonesia. Memberikan inspirasi bagi anak negeri untuk tidak takut bermimpi dan memberi mereka pandangan luas akan kehidupan mereka di masa depan. Mereka adalah pejuang masa depan, mereka harus mampu bersekolah yang tinggi dan membangun daerah mereka kelak ketika mereka sudah siap dengan bekal yang mereka peroleh. Tak ada yang tak mungkin jika mereka berani bermimpi dan memperjuangkan mimpi mereka. Inilah yang akan ku tanamkan pada anak didikku kelak.
Perjalanan untuk mengarungi kelas kehidupan pun dimulai. Dengan bekal yang kubawa, aku berangkat menggunakan pesawat terbang ke Manado, lalu melanjutkan penerbangan ke Ternate. Setelah tiba di Ternate, aku berlayar selama 8 jam menuju Kabupaten Halmahera Selatan, dan setelah itu, dengan menggunakan motor air aku mengarungi laut selama 3 sampai 4 jam tergantung ombak untuk tiba di Desa wayatim, desa dimana aku akan mengabdi dengan ketulusan hati yang kumiliki, tanpa gentar.
Kini, tanpa terasa lima bulan sudah kulalui dengan berjuta makna kehidupan selama masa penugasanku. Kedatanganku di Desa Wayatim, disambut dengan luar biasa dan hangat oleh seluruh masyarakat desa dan murid-murid yang sangat menantikanku. Sinar mata mereka yang penuh dengan kebahagiaan akan hadirnya seorang guru di tengah-tengah mereka sungguh membuat mereka memancarkan keceriaan dan semangat yang luar biasa. Persembahan tarian dan musik tradisional yang memukau oleh para murid menggambarkan keistimewaan budaya pada masyarakat di desa ini. Aku pun ikut menari dengan bahagianya, tarian yang kunikmati pertama kali dalam hidupku. Beraneka macam makanan tradisional yang sangat asing bagiku membuatku tak tahan untuk mencicipi satu per satu makanan tersebut. Sungguh rasa makanan yang mereka sajikan sangat nikmat di lidahku. Ya, aku cocok dengan makanan dan budaya tarian, juga musik tradisional yang sangat membudaya ini. Semua penyambutan ini mengingatkanku pada semboyan bangsa Indonesia “Bhinneka Tunggal Ika”, walaupun berbeda-beda namun tetap satu jua, torang samua basudara.
Desa kecil yang ditempati oleh penduduk bersuku Makian Dalam dan beragama muslim ini membuatku merasa hangat dalam keluarga baruku. Keramahan, kebaikan hati serta hati besar untuk selalu membantuku dalam segala hal kehidupan yang ku alami di desa sungguh membuatku tak pernah merasa kesepian. Meski dalam keadaan desa yang sangat kecil, tanpa listrik, tanpa signal, aku tetap dapat merasakan hangatnya sentuhan persaudaraan yang ada di desa ini. Konflik sara yang pernah terjadi beberapa tahun silam tak membuat hati mereka tertutup untuk menyambutku dengan kasih walaupun aku bukanlah seorang muslim. Mereka menganggapku sama, menghormati serta menghargaiku dengan tulus.
Tibalah saat yang kutunggu-tunggu, saat di mana aku diperkenalkan dengan sekolah tempatku mengajar dan anak-anak murid yang akan menjadi bagian terbesar dalam hidupku selama masa pengabdian ini. Anak-anak menyambutku dengan luar biasa di sebuah Sekolah Dasar, SD N Wayatim, tak jauh dari tempat tinggalku. Hari pertamaku kuhiasi dengan keceriaan dan semangat cinta kasih dengan mengajari mereka sebuah gerak dan lagu “We Are In The Train of Love”. Mereka sangat asing dengan Bahasa Inggris dan lagu ini, namun dengan kebahagiaan yang mereka miliki, hanya dalam waktu yang singkat, mereka langsung dengan lancarnya menyanyikan lagu ini lengkap dengan gerakannya. Lagu ini aku ajarkan di awal karena aku ingin membawa mereka di dalam kereta cinta yang kubawakan untuk mereka. Kereta yang akan membawa mereka ke tempat tujuan mereka, kereta yang akan mengahantarkan mereka pada cita-cita mereka dengan landasan cinta kasih. Ketika mereka semua sudah masuk ke dalam kereta cinta, kini tibalah saatnya untuk membagikan cinta lasih dengan mulai menganal lebih mendalam satu sama lain, karena pepatah mengatakan ‘tak kenal, maka tak sayang’.
Perkenalan pun dimulai. Kami berkumpul di sebuah ruang kelas yang tak cukup besar namun sanggup menampung seluruh murid yang ada di SD tersebut. Tepat sekali, tak banyak murid yang bersekolah di SD tersebut, keseluruhan total mereka mulai dari kelas 1 sampai kelas 6 adalah 68 orang. Mereka kecil-kecil, namun sungguh luar biasa. Mereka memanggilku Ibu Enjel, dan inilah namaku di Desa wayatim ini. Desa ini adalah sebuah desa yang kecil, dan hanya ada SD di sini.
Mulailah dengan tempo yang pelan dan penuh kebahagiaan aku memperkenalkan diri serta mulai mengenal satu per satu dari mereka. Semua mata tertuju dan memberikan perhatian penuh padaku yang dengan semangat menjelaskan mengenai Kalimantan Barat dan Yogyakarta, tempat yang sama sekali baru terdengar oleh mereka. Lalu, aku pun mulai bertanya mengenai keadaan desa dan mencoba memahami cara mereka berkomunikasi. Sungguh luar biasa mengejutkan bagiku, ketika semua anak yang berada di kelas bawah, yaitu kelas 1, 2 dan 3 masih belum bisa menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mereka berbicara menggunaan Bahasa Makian Dalam yang bercampur dengan Bahasa Maluku Pasar. Hal ini sangat menyulitkan bagiku untuk memahami kata-kata mereka dan tentu saja mereka juga kesulitan memahami kata-kataku yang menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kami pun terus berusaha untuk saling memahami setiap kalimat yang dimaksud.
Pembagian kelas pun dilakukan oleh kepala sekolah. Mengingat hanya ada 1 orang guru yang mengajar di sekolah tersebut, yaitu Pak Asri Ishak yang akrab disapa Pak Aci, maka dengan kehadiranku jumlah guru pun bertambah 1. Kami berdua akhirnya bertanggungjawab mengajar mulai kelas 1 sampai kelas 6 yang selama ini hanya diajar secara roling oleh Pak Aci. Selama beberapa tahun belakangan ini, siswa SD N Wayatim sangat merindukan sentuhan seorang guru perempuan yang dapat mengajar mereka dengan penuh kesabaran, terutama bagi anak-anak kelas 1, 2 dan 3. Dan pada akhirnya, aku pun diserahi tanggungjawab untuk mengajar siswa kelas 1, 2 dan 3 yang notabene muridnya berkisar 65% dari jumlah keseluruhan siswa.
Kegiatan belajar-mengajar pun dimulai. Dalam 1 hari aku harus mengajar 3 kelas sekaligus, dan perhatian dalam menyampaikan materi harus tetap tebagi adil untuk seluruh siswa. Hari pertama merupakan hari yang sangat spesial bagiku dalam mengajar. Aku memulai hari dengan penuh semangat dan keceriaan, materi pembelajaran telah ku siapkan dengan baik secara kreatif dan sesuai dengan RPP berdasarkan SKKD yang telah ku rancang. Aku mempersiapkan 3 buah RPP dalam satu sesi mengajar secara bersamaan untuk kelas 1, 2 dan 3. Sedangkan dalam 1 hari ada 2 sesi kegiatan belajar mengajar, artinya dalam 1 hari aku harus mempersiapkan 6 buah RPP. Di SD N Wayatim ini, seluruh kegiatan belajar mengajar salama sehari diawali dengan apel pagi. Pada apel pagi tersebut aku dan Pak Aci memberikan “serapan pagi” untuk anak-anak, yang berupa semangat serta dorongan untuk mereka dalam perjuangan mencapai cita-cita mereka.
Tibalah waktunya untuk memulai proses belajar mengajar bersama para murid yang sangat kubanggakan. Entah apa yang kurasa, pada saat itu pula mata hati dan pikiranku terbuka lebar bahwa aku tidak sedang mengajar murid SD di kota yang sudah memahami Bahasa Indonesia dengan baik dan benar, serta sudah dapat belajar sesuai dengan SKKD yang ditetapkan berdasarkan KTSP. Murid-murid kelas 1 dan kelas 2 belum mengenal huruf dan angka, serta murid kelas 3 belum bisa membaca dan berhitung. Ya Tuhan, aku sangat terkejut Semua materi semester II yang ku persiapkan lengkap dengan PRRnya tidak terpakai. Aku tidak dapat egois memaksakan mereka untuk mempelajari materi yang telah ku persiapkan. Pada saat itu, tinggal 1 bulan lagi mereka akan menghadapi UAS, dan seluruh siswa kelas 1,2 dan 3 masih sangat jauh tertinggal materi pelajaran. Aku mencoba mengejar ketertinggalan mereka dengan secara intensif mengajarkan mereka calistung. Setiap pagi aku mengajar dengan metode dan pendekatan kreatif yang berbeda agar mereka menjadi tertarik dalam belajar calistung. Mulai dari menggunakan lagu, permainan, belajar di alam, serta berbagai metode kreatif lainnya. Pada sore harinya, aku mengajar mereka kembali di sekolah untuk meningkatkan kemampuan calistung mereka. Calistung adalah kemampuan awal yang harus mereka kuasai untuk dapat menerima materi pembelajaran selanjtnya.
Hambatan lain yang terjadi adalah, mereka kurang memahami Bahasa Indonesia yang ku gunakan, sedangkan aku kurang memahami Bahasa Maluku Pasar dan Makian Dalam yang mereka gunakan. Sungguh, aku harus segera mempelajari bahasa mereka dan tetap dengan disiplin menerapkan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam proses pembelajaran di sekolah. Bahasa memang sungguh hal terpenting dalam proses belajar mengajar. Dengan menggunakan bahasa yang dapat dipahami antara guru dan murid maka materi pembelajaran akan jauh lebih mudah dipahami.
Jika kita berkaca pada keadaan zaman saat ini, sungguh tidak adil bagi mereka yang sama sekali belum dapat mengenal Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Padahal seorang murid dituntut untuk menguasai tiga bahasa dalam pembelajaran, yaitu Bahasa Indonesia dan dua buah bahasa asing. Kemampuan menguasai bahasa ini akan membuat murid dapat menerima informasi dari berbagai sumber, tidak hanya dari daerah mereka sendiri. Sedangkan bahasa daerah patut dilestarikan dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari di rumah, namun di sekolah mereka harus tetap diwajibkan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kenyataannya adalah, di sekolah ini, guru mengajar menggunakan bahasa daerah, Maluku Pasar, bahkan soal ulangan dan ujian pun ada yang masih dalam bahasa daerah. Mereka sangat tidak terbiasa menggunakan Bahasa Indonesia. Bagaimana tidak tertinggal, semua buku yang mereka miliki menggunakan Bahasa Indonesia, sedangkaan mereka belum memahami Bahasa Indonesia. Tantangan pertama yang harus ku hadapi adalah bagaiman aku bisa membuat mereka terbiasa dengan menggunakan Bahasa Indonesia dalam pembelajaran. Dengan berjalannya waktu aku mengurangi porsi penggunaan bahhasa Maluku Pasar dan lebih menggunakan Bahas indonesia, sampai pada akhirnya aku mengajar menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Berbagai permasalah pendidikan mereka hadapi di desa. Anak-anak akhirnya menjadi korban maraknya kasus pendidikan, belum lagi ditambah dengan akan segera diberlakukannya kurikulum 2013 yang sangat membuat guru kebingungan dan akibatnya akan ditanggung lagi oleh anak didik. Jika pemerintah peduli pada keadaan pendidikan di daerah terpencil, tentunya mereka memahami bahwa di desa, bahkan buku paket masih banyak yang menggunakan kurikulum 1994. Untuk kurikulum yang diterapkan sekarang, yaitu KTSP masih begitu banyak guru yang belum memahami, apalagi akan diberlakukannya kurikulum baru ini. Banyak guru mengeluh dan berbagi dengan hati miris kepadaku. Mereka sangat berharap jika ada pergantian kurikulum, pelatihan intensif pun harus sampai pada mereka. Tapi pada kenyataannnya, kurikulum berubah dan mereka tetap tidak diberi pelatihan cukup. Sungguh sangat tidak tepat sasaran dalam menyelesaikan masalah pendidikan di Indonesia.
Seperti halnya di SD N Wayatim, hanya ada beberapa buku saja yang sudah menggunakan KTSP. Satu mata penlajaran hanya 1 buku, dan sangat menyulitkan guru untuk mengajar para murid. Persiapan matang dan cara belajar yang kreatif sangat dibutuhkan untuk membantu murid memahami pelajaran secara konstruktif, walaupun tidak sesuai dengan indikator pencapaian di SKKD. Intinya adalah siswa memahami, entah cepat atau lambat, namun mereka harus belajar ‘step by step’.
Di luar segala kekurangan fasilitas pendidikan yang dialami guru maupun siswa di SD N Wayatim, semangat mengabdi Sang Guru dan juga semangat belajar para siswa yang sangat tinggi menumbuhkan kekuatan hati ini untuk terus memperjuangkan pendidikan yang ‘layak’ bagi mereka. Anak-anak dengan penuh semangat selalu berusaha memahami setiap pelajaran yang ku berikan di sekolah. Sungguh mereka luar biasa, tidak ada kata menyerah di hati mereka. Suara lantang dan kelincahan mereka menunjukkan betapa sebenarnya mereka adalah anak-anak yang hebat. Aku bangga pada mereka, sungguh bangga.
Setelah mendidik mereka selama 5 bulan ini, begitu banyak peningkatan yang mereka lakukan. Kini siswa kelas 1 sudah dapat menulis dengan rapi, mereka sudah dengan lancar mengenal dan berhitung angka 1 sampai 100. Luar biasa, jauh dari target yang ku kira. Mereka menguasai banyak gerak dan lagu, gambar mereka yang buat pun menjadi penuh makna. Pendekatan belajar tematik aku terapkan dalam mendidik mereka. Mereka sangat bahagia ketika harus kembali ke sekolah. Aku sangat bahagia melihat semangat mereka untuk belajar yang sungguh luar biasa.
Siswa kelas 2 sudah kini sudah lancar berhitung, bahkan perkalian dan pembagian. Semua metode pembelajaran kreatif aku terapkan dengan menggunakan benda-benda yang ada di sekeliling mereka, karena sangatlah sulit bagi mereka untuk mencari fasilitas belajar yang canggih. Mereka sudah lancar membaca dan menulis. Siswa kelas 3 sudah lancar dalam membuat karangan dan mereka kini sudah dapat membantu menjelaskan pembelajaran pada adik kelas mereka. Aku sangat bangga pada mereka. Mereka sungguh cerdas dan hebat. Namun sebagai guru, aku harus peka dalam melihat kemampuan yang mereka miliki, mengembangkan minat dan bakat mereka, serta menjadikan mereka berarti dengan segala pembelajaran kuberikan. Aku sungguh menyayangi mereka.
Aku tidak berjuang sendiri, kini sudah ada 7 orang guru yang bertugas di SD N Wayatim, lengkap dengan kepala sekolah. Tugasku selanjutnya adalah bagaimana caranya aku meningkatkan semangat guru-guru untuk tetap mengabdi dengan sepenuh hati dan tulus bagi Indonesia dengan berbagai macam permasalahan dan persoalan yang mereka hadapi ketika bertugas di peosok negeri seperti saat ini. Mereka adalah guru-guru terpilih dan terpanggil. Aku tetap harus berbagi dan sering berdiskusi dengan mereka untuk saling memberi dan menerima dalam bergerak bersama memperjuangkan pendidikan. Semangat mereka sudah cukup besar, namun terkadang cara konvensional dan kekerasan dalam mengajar masih sering diterapkan. Aku dengan sabar memberikan mereka pandangan mengenai mendidik dengan hati yang menerapkan ‘Multiple Intelegences Theory’ secara sederhana untuk menganggap setiap anak adalah Juara, mereka adalah bintang dan tidak ada satu pun dari mereka yang tidak berguna. Anak adalah harta karus terbesar yang harus kita gali untuk dapat menjadi sangat berharga. Inilah yang terus dan berusaha aku tanamkan. Tidak mudah melakukan perubahan, namun dengan kesabaran dan keteguhan hati untuk tetap mempertahankan kebaikan, maka secara tidak disadari semangat ini menular pada seluruh guru yang ada. Mereka juga mempunyai hati yang sangat tulus.
Kini, kekerasan di SD N Wayatim sudah hampir tidak ada. Guru mengajar menggunakan metode kreatif dan belajar langsung bersama alam. Tidak terpaku pada buku dan sudah mulai menerapkan penggunakan gerak dan lagu yang sangat disukai anak-anak dalam belajar. Semua berusaha menerapka kreativitas mereka dalam mengajar. Aku akan terus berjuang, rendah hati dan terus dengan tenang menghadapi setiap bentuk tantangan yang ada dalam setiap sesi pembelajaran di kelas kehidupan yang sedang kuarungi saat ini.
Berikut beberapa foto kenangan bersama di Desa Wayatim.
By:
Angela Asri Purnamasari
![]() |
| Sekolah tempatku tumbuh dan berkembang bersama anak-anak didikku. |
![]() |
| Desa Wayatim, tempatku mengabdi dan hidup dengan keluarga baruku. |
![]() |
| Menyiapkan dan menyantap hidangan spesial yang tak kan pernah kutemui di tempat lain. |
![]() |
Keindahan alam Desa Wayatim, yang penuh dengan kelapa, karena sebagian besar penduduknya adalah petani kopra.
|
![]() |
| Menikmati segarnya kebun dengan pondok sederhana nan mengasikkan. |
![]() |
| Duduk santai sepulang sekolah bersama anak-anak didikku di dermaga desa. |
![]() |
| Selain belajar, mereka mengemban tugas yang mulia untuk membatu prang tua mereka setiap hari sepulang sekolah atau di waktu libur mereka. Mereka anak yang hebat. |













Komentar
Posting Komentar