KESAKSIAN IMAN INDONESIA MENGAJAR - Catatan 14 September 2013
KESAKSIAN IMAN
Desa Wayatim, Sabtu, 14 September 2013
Genaplah 11 bulan pengabdianku bersama Indonesia Mengajar. Sejak bulan Nopember 2012 yang lalu, aku mulai menginjakkan kaki di tanah Ternate, Maluku Utara. Perjalanan masih cukup panjang menuju tempat penugasan mengajarku di Desa Wayatim, Kecamatan Bacan Timur Tengah, Kabupaten Halmahera Selatan. Setibanya di Ternate aku melanjutkan perjalanan ke Pulau Bacan dengan sebuah kapal selama 8 jam. Ini pengalaman pertamaku menggunakan kapal dan aku pun sangat menikmati setiap detik perjalanan itu dengan penuh kebahagiaan. Pagi itu, indah cahaya matahari menyambutku dengan tebar senyum keceriaan dan semangat untuk mulai menjalankan tugas baruku.
Gerakan Indonesia Mengajar, adalah sebuah gerakan dari yayasan non pemerintah yang diprakarsai oleh Pak Anies Baswedan. Pada setiap tahunnya gerakan ini menerjunkan 2 angkatan untuk mengabdi dalam dunia pendidikan di pelosok negeri dari Sabang sampai Merauke. Gerakan ini membuka kesempatan bagi seluruh lulusan universitas terbaik di Indonesia maupun luar negeri tingkat sarjana dan selebihnya untuk bergabung serta menginspirasi putra-putri bangsa di pelososk negeri selama setahun. Dalam angkatanku, yaitu angkatan V tahun ke 3 di penempatan, ada sekitar 6.800 orang lulusan yang mendaftar dan terpilihlah 52 orang Pengajar Muda untuk melayani dengan setulus hati selama 14 Bulan.
Aku sangat bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesempatan berharga ini. Dari seluruh universitas yang ada di Yogyakarta, aku merupakan Pengajar Muda pertama yang bergabung sebagai lulusan Universitas Sanata Dharma. Ketika aku dinyatakan diterima, aku berjanji pada diriku bahwa aku akan melaksanakan tugas dan tanggungjawabku dalam seluruh proses pembelajaran dan penempatan dengan baik, sehingga aku bisa menjaga nama baik lulusan Universitas Sanata Dharma yang sangat kubanggakan.
Waktu yang kutunggu-tunggu pun tiba, yaitu saat dimulainya pelatihan pada bulan September 2012 di Jakarta dan aku bertemu dengan keluarga baruku di Indonesia Mengajar. Sungguh tak kusangka, ketika aku memperkenalkan diri sebagai salah satu lulusan Universitas Sanata Dharma, masih banyak pula Pengajar Muda dari universitas lain yang belum mengenal bahkan baru mendengar nama universitasku. Aku tidak menjadi minder, malah aku berusaha memperkenalkan universitasku dengan sebaik mungkin. Akhirnya mereka pun mulai mengenal Universitas Sanata Dharma yang cerdas dan humanis dengan baik sesuai dengan semangat ignasian yang titanamkan.
Jujur, ketika aku bergabung dengan mereka aku merasa seperti seekor anak ayam yang baru keluar dari kandang. Di universitasku, aku terbiasa dengan hidup kekatholikanku yang sangat mencintai Tuhan Yesus Kristus. Aku terbiasa untuk mengikuti misa harian setiap pagi di asramaku, asrama Syantikara dengan Suster Benedicte serta seluruh keluarga besar asrama. Ditambah lagi ibadat lainnya yang selama 5 tahun terakhir aku jalani dengan sepenuh hati dan ternyata sudah merasuk dalam hati dan benakku untuk selalu menjalankan prosesi doa yang rutin seperti itu. Di pelatihan, aku harus terbiasa dengan pembagian waktu berdasarkan sholat 5 waktu yang dijalankan oleh keluarga baruku dan kebetulan dalam angkatanku hanya ada 1 orang katholik di sana. Ada pula jemaat Kristen yang berjumlah 3 orang dan seorang umat Budha. Keberadaan kami dalam Keluarga Besar Indonesia Mengajar ini sungguh menunjukkan pluraliseme kebagsaan yang sangat ditanamkan oleh Gerakan Indonesia Mengajar. Kami pun akhirnya membuat ibadah secara mandiri di pagi hari dan pada saat saudara muslim kami mengadakan sholat. Aku pun mulai terbiasa dengan jadwal baruku dan cara hidup yang ada.
Setiap akhir pekan kami mendapatkan waktu untuk beribadah di gereja terdekat dari tempat pelatihanku, yaitu sebuah gereja Kristen. Sebenarnya, semua gereja adalah sama bagiku, Tuhan Yesus Kristus ada bersama kami, namun aku masih merasa ‘haus’.....
***
Aku sangat rindu akan kekusyukan doa dan prosesi kudus selama Perayaan Ekaristi. Aku rindu dengan Perjamuan Kudus Tuhan. Akhirnya, setelah mengikuti ibadah selama 3 minggu, aku pun memutuskan untuk pergi sendiri ke gereja Katholik terdekat dari Cikaobandung di mana aku dikarantina untuk pelatihan selama 8 minggu, yaitu Gereja Katedral Santo Petrus Bandung.
Di gereja inilah akhirnya aku menerima Tubuh dan Darah Kristus serta mengikuri prosesi kudus yang amat sangat aku rindukan. Aku mengikuti misa dengan sangat khusyuk mengingat mungkin aku akan menerima-Nya lagi pada 3 atau 4 minggu mendatang. Aku menghadiri misa ini tidak sendirian, walaupun aku adalah satu-satunya umat Katholik yang berniat mengikuti misa tersebut. Ada banyak Pengajar Muda lainnya yang bersama-sama mendukungku melaksanakan misa. Mereka dengan setia menungguku sampai aku menyelesaikan misa kudus di gereja tersebut, bahkan ada seorang sahabat muslimku yang sedang menempuh perkuliahan di salah satu universitas di Bandung, menemaniku sampai ke dalam gereja serta selama misa berlangsung. Dia menemaniku dengan berbesar hati serta tak sungkan-sungkan untuk berbincang dengan Romo yang memimpin misa pada saat itu. Aku sungguh bahagia berada di tengah-tengah keluarga yang sangat mengerti ini. Aku meminta kekuatan dari Tuhan bagi hatiku dan memohon berkat dari Romo untuk satu bulan masa pelatihanku berikutnya.
Setelah pelatihan berlangsung dengan baik, tibalah saatnya untuk mengumumkan tempat penugasanku. Suasana sangat menegangkan karena masing-masing dari seluruh Pengajar Muda telah mengidam-idamkan suatu tempat yang akan kami tuju. Begitu pula diriku, sejak awal mengenal Indonesia Mengajar, entah mengapa ada sebuah tempat di ujung Maluku yang sangat menarik hatiku. Dari namanya saja aku sudah sangat tertarik, ditambah lagi ketika membaca berbagai cerita luar biasa dari mereka yang telah mengabdi di sana. Aku sangat penasaran dengan tempat ini, dan akhirnya Tuhan pun menjawabnya, aku sungguh ditempatkan di daerah itu, tepatnya di Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. Aku sangat bersyukur, namun pada awalnya ada sedikit gundah di dalam hatiku. Aku ditempatkan di sebuah desa kecil bernawa Desa Wayatim yang merupakan desa penempatan Pengajar Muda terjauh di Kabupaten Halmahera Selatan, yang 100% penduduknya menganut agama muslim. Sebelum aku tiba di desa ini, banyak cerita dari masyarakat sekitar yang menambah kegundahan hatiku, mulai dari masyarakat muslim yang amat fanatik, keberadaan ilmu hitam dan ‘tiup-tiup’ serta adanya penolakan keras terhadap masyarakat yang berbeda suku dengan mereka, berbeda agama, apalagi umat kristiani yang pernah menggores sejarah tak nyaman di daerah ini. Dalam diri mereka masih sangat berbekas peristiwa konflik Ambon yang memakan banyak korban serta kerugian bagi daerah ini pada tahun1999.
Namun, ketulusan hati tidak membuatku gentar untuk terus melangkahkan kaki ke desa ini. Ada sebuah dorongan besar yang membuatku tak sabar untuk segera tiba di desa itu. Aku tetap merasakan kebahagiaan dan kasih sayang yang luar biasa dalam setiap langkah yang ku tempuh.
Aku kuatkan hatiku dengan segala doa dan berkat dari kedua orang tuaku dan juga para Romo, Suster serta semua orang-orang yang menyayangiku. Aku berangkat maju dan percaya bahwa akan ada banyak pelajaran yang Tuhan berikan di sini. Aku yakin bahwa hidup akan menjadi sangat bermakna ketika kita peka mendengarkan suara hati dan berani menjalankan segala yang telah dibisikkan oleh hati ini, apa pun resikonya.
Memang bagiku, tidak mengikuti prosesi Ekaristi Kudus selama satu bulan saja sudah sangat membuatku haus, apalagi harus hidup di sini selama 1 tahun 2 bulan tanpa gereja dan juga misa kudus yang masih belum jelas untukku. Pertanyaan manja ini keluar dari hatiku serentak ketika mendapat informasi tentang desa penempatanku untuk mengabdi. Tuhan Yesus ada di hatiku, kapan pun dan di mana pun aku berada, aku yakin hatiku akan tersegarkan oleh Karunia Roh Kudus yang menyertai langkahku.
Pada bulan November 2012, tibalah aku di desaku. Penyambutan yang luar biasa pun dipersembahkan oleh masyarakat desaku. Mereka menerimaku dengan sepenuh hati dan suka cita karena selama ini hanya ada 1 orang guru laki-laki yang mengabdi di sana. Masyarakat dan terlebih lagi anak-anak didikku sangat menantikan kehadiran seorang guru, apalagi guru perempuan. Tarian dan senyuman kecerian mereka persembahkan untuk menyambutku. Terlihat jelas kehidupan muslim mereka yang sangat ramah dan hangat serta semua masyarakatnya mengenakan jilbab dan aku pun berusaha untuk terus menjaga keharmonisan serta menghargai adat-istiadat yang ada dengan mengenakan penutup kepala semacam pasmina seperti yang dikenakan oleh Bunda Maria. Di sini juga aku belajar untuk mengenakan pakaian tertutup dan sopan dan itu adalah hal yang sangat positif dalam hidupku.
Ada banyak hal yang belum mereka ketahui mengenai keberagaman suku, agama dan budaya di Indonesia. Pada awalnya, kedatanganku ke desa ini yang berbeda agama membuahkan kotroversi antar masyarakat yang belum membuka hati mereka. Berbagai macam pertanyaan terlontar baik dari anak muridku maupun masyarakat di awal masa penugasanku. Pada saat mengajar pun tak jarang anak-anak menyimpan berbagai pertanyaan dan kekhawatiran yang terpancar dari sorot mata mereka. Tepat sekali, aku terlihat asing bagi mereka dan aku menerima keadaan ini dengan kesabaran dan keyakinan bahwa di lubuk hati mereka sebenarnya mereka sangat menyayangiku dan bersyukur atas kehadiranku, hanya saja mereka butuh waktu lebih untuk mengenal serta menerima latar belakangku yang membuka mereka akan kebhinekaan Indonesia. Di luar itu semua, anak-anak sangat dekat padaku, mereka selalu memeluk, mencium serta tak henti-hentinya menggandeng tanganku. Sampai pada suatu sore, di tepi pantai yang sangat indah dengan cahaya matahari yang mulai terbenam, aku mengajak anak-anakku belajar Bahasa Inggris melalui gerak dan lagu juga permainan dalam sebuah ekstrakurikuler. Seperti biasa, anak-anak memelukku dengan penuh kasih sampai tiba-tiba ada seorang anak perempuan lainnya yang menarik tangan temannya dan berkata, “Jang peluk-peluk Ibu Enjel kong, dong orang kristen.” Kalimat ini sangat polos terlontar dari bibir murid kelas 3 ku yang lugu ini. Dengan perlahan, dan penuh kelembutan aku menariknya dan mengajaknya bercerita di depan teman-teman yang lainnya. Di sinilah aku mulai menanamkan pluralisme keagamaan yang harus mereka ketahui sejak dini, apalagi terlalu banyak cerita mengenai konflik sara yang secara tidak adil mereka terima. Mulailah aku bertanya mengenai macam-macam agama yang ada di Indonesia, dan yang mereka ketahui hanyalah Islam dan Kristen, tepat dua agama yang berkonfluk di Maluku ini. Mulailah aku menjelaskan keberagaman Indonesia dengan membawa peta Indonesia, kutunjuk pulau Bali yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, cara mereka berdoa, dan apa yang agama Hindu ajarkan. Ku geser lagi tanganku ke Pulau Jawa, tepatnya Kota Yogyakarta. Kujelaskan bahwa di Yogyakarta ada banyak sekali orang muslim, namun aku sampaikan pada mereka mengenai kehidupan masyarakat di Pulau Jawa yang sangat beragam mulai dari agama, suku dan bahkan bangsa dengan latar belakangnya yang terkenal baik sebagai sebuah kota pelajar. Kemudian, kuminta mereka menunjuk pulau Kalimantan, di mana aku lahir dan besar dari dua keluarga berlatar belakang agama berbeda. Ayahku berasal dari keluarga Muslim dan Ibuku berasal dari keluarga Katholik. Semakin mereka bertanya, apa itu Katholik Ibu? Ku jelaskan bahwa Katholik itu adalah nama sebuah agama yang juga percaya pada Nabi Isa, sama seperti Kristen, namun ada sedikit perbedaan dalam tata cara ibadahnya namun tujuannya tetap sama yaitu untuk menjalankan Hukum Cinta Kasih. Ku minta lagi salah satu dari mereka untuk menunjuk Kepulauan Maluku, ku persilahkan mereka menunjuk Ambon dan Halmahera. Aku terangkan kepada mereka dengan sangat hati-hati, di Ambon banyak orang Kristen, di Halmahera ada banyak muslim, namun kita semua tinggal di Indonesia. Kalau begitu, kita semua sama-sama orang Indonesia dan hidup dalam kesatuan, apa pun latar belakang kita. “Torang samua basudara”, inilah semboyan yang paling mudah mereka pahami, bahwa semua agama mengajarkan cinta kasih, kebaikan, persaudaraan dan perdamaian. Dan aku pun mulai melihat sorot mata terbuka dari setiap wajah mereka,dan kujelaskan bahwa agama itu hanyalah status yang kita pilih dalam hidup kita sebagai manusia yang hidup bersama.
“Kalau ngoni baik deng mama, papa adik deng keluarga, ngoni pun harus baik deng samua orang yang ada di Indonesia dan di dunia ini, baik sama teman, sama Ibu, deng sama samuanya..” Ku lanjutkan penjelasanku dengan bahasa sehari-hari mereka yang akan membuat topik ini menjadi lebih mudah dipahami. Akhirnya, mereka pun kembali memelukku karena mereka memang sungguh menyayangiku.
Lalu aku bertanya pada muridku yang tadi tentang siapa yang memberi tahu dia mengenai hal yang ia sampaikan tadi. Dia pun menjawab dengan tak ragu bahwa Ibunya lah yang menyampaikan hal itu. Maka aku pun menjadi lebih sadar bahwa mereka sungguh membutuhkan bimbingan, mulai dari orang tua mereka. Ini berarti bahwa aku pun harus membuka mata hati orang tua mereka untuk menanamkan pluralisme yang akan menyebar pada anak-anak mereka nantinya.
Memang, di masyarakat sering ada banyak pertanyaan yang terkadang membuatku harus lebih ekstra melakukan pendekatan nasionalisme pada mereka. Seperti, “Ibu bikiapa kong ngoni pakai kerudung? Ngoni kan bukang muslim”. Aku menjelaskan bahwa memang aku bukan muslim, namun ini bukan jilbab, ini adalah pasmina yang aku pakai. Ada banyak juga pakaian adat yang mengenakan penutup kepala, dan bukan orang muslim saja yang mengenakannya. Aku perlihatkan gambar pakaian adat betawi, dan aku mengatakan aku memakai pentup kepala untuk menghormati umat muslim yang ada di sini, artinya toleransi antar umat beragama, karena di Indonesia kita hidup dengan berbagai latar belakang suku dan agama, namun kita tetap satu Indonesia. Aku mengingatkan kembali semboyan Indonesia pada mereka, “Bhinneka Tunggal Ika”, yang artinya “Walau pun berbeda-beda, namun tetap satu jua.”
Aku membiarkan segala sesuatu mengalir dan menjelaskan segala hal terkait pluralisme sesuai dengan apa yang mereka butuhkan. Aku mengikuti adat istiadat dan kebiasaan yang mereka lakukan di desa. Pada awalnya mereka agak sulit menerima dengan berbagai macam pertanyaan dan cerita berlatar belakangkan konflik Ambon, namun seiring dengan penjelasan dan pendekatan yang aku lakukan, mereka pun sekarang sangat bisa menerima aku apa adanya dan aku juga bersama-sama mereka melakukan beberapa kegiatan pengajian serta mendengarkan alunan lagu-lagu Qasidah bersama Ibu-Ibu majelis taklim, semua berjalan dengan sangat lancar, penuh tenggang rasa, dan kasih sayang. Mereka sekarang sudah bisa memahami dan menghargai keberagaman baik suku, bahasa, serta agama dalam satu Indonesia. Toleransi antar umat beragama semakin meningkat seiring dengan keberadaan aku yang ‘berbeda’ di antara mereka. Mereka pun tak jarang mengingatkan aku akan “Hari Minggu”, di mana aku wajib mengikuti Misa Kudus. Bahkan mereka siap mengantarkan aku dengan sebuah ketinting atau pun motor air ke desa tetangga, Desa Pigaraja di mana ada sebuah Gereja Kristen di sana. Beberapa kali aku mengikuti misa bersama umat Kristen di desa tetangga tersebut dengan bantuan masyarakat di Desa Wayatim. Sungguh, hal ini mendamaikan hati saya, “Kebahagiaan itu sederhana.......”
Hari berganti hari, disambut oleh minggu dan bulan, tibalah Masa Adven. Teringat saat aku masih berada di Yogyakarta, saat yang sangat bermakna bagi aku di mana aku menyiapkan Natal Anak, lengkap dengan parsel natal, drama serta berbagai macam kegiatan sosial lainnya untuk menyambut kelahiran Sang Juru Selamat, Tuhan Yesus Kristus. Berbagai macam kegiatan rohani pun aku jalankan di masa sebelum Natal ini. Namun, kali ini Natal yang aku sambut sangat berbeda. Tak ada kesibukan seperti yang pernah aku jalankan sebelumnya untuk menyambut hari istimewa ini. Di sini, aku masih berfokus pada keadaan sekolah yang sangat membutuhkan perhatian, baik keadaan siswa dan infrastruktur maupun fasilitas sekolah dalam administrasi serta proses pembelajaran. Aku juga harus tetap berfokus pada perkembangan masyarakat yang pada masa awal penempatan aku masih sangat tertutup serta masih mendidik anak dengan sangat kasar. Sungguh, masa ini adalah awal penempatan yang butuh penyesuaian sangat cepat ditambah lagi waktu ujian akhir semester yang sudah tinggal beberapa minggu lagi dan aku harus mempersiapkan soal ujian, menulis rapor untuk 3 kelas dan lain sebagainya. Karena hanya ada dua orang guru di desa pada saat itu, ada Pak Asri dan aku sendiri, maka kami harus menjadi wali kelas masing-masing di tiga kelas sekaligus. Dengan berkat dan bimbingan dari Tuhan Yang Maha Kuasa serta usaha yang tidak mudah akhirnya semua berjalan sesuai rencana dan tepat pada tanggal 23 Desember aku membagikan rapor kepada anak-anak.
Malam setelah pembagian rapor, semua terlihat biasa-biasa saja, padahal menurut aku malam itu sangat amat bermakna. Di desa yang sepi, kecil, tanpa signal dan listrik mati, aku akhirnya mengajak anak-anak ke tepi pantai dan aku menceritakan mengenai apa yang aku persiapkan dan rayakan tepat pada tanggal 25 Desember. Aku menceritakan tentang Natal kepada mereka, dan sungguh luar biasa, mereka memahami perasaan saya. Pada malam itu juga, anak-anak aku mengumpulkan kasbi (singkong), loka (pisang), dabu-dabu (sambal) serta ikan dan mereka mengajak aku membakar makanan tersebut serta menyantapnya sambil menari dan bernyanyi bersama. Aku pun mengeluarkan permen, biskuit dan susu yang telah aku persiapkan dari jauh hari sebagai parsel natal dan membagikannya kepada anak-anak di desa. Kami pun menyantap hasil bakaran kami dengan kebahagiaan dan mengakhiri acara istimewa tersebut dengan menyalakan kebang api yang aku bawa dari kota. Kembang api itu membuat desa kami indah dengan cahayanya yang membentuk seperti bunga serta tebaran bintang di angkasa yang menambah semaraknya malam hari itu. Aku sangat bahagia dengan perayaan malam menyambut Natal yang indah di Desa Wayatim tepat pada tanggal 23 Desember 2012.
Keesokan harinya aku menikmati liburan Natal dan mengikuti perayaan Natal di Labuha. Malam Natal sangat indah di Labuha, namun umat Katholik di dalam gereja tidak sampai 20 orang. Ini adalah perayaan malam Natal yang sangat sepi yang pernah aku rasakan. Ada rasa sedih, namun kekhusyukan misa malam natal tersebut sangat menyentuh hatiku yang terdalam. Sunyi malam Natal pun sangat terasa, tanpa musik, tanpa drama, tanpa tarian, tanpa koor dan tanpa hiruk-pikuk kemewahan baju baru di malam Natal. Inilah Natal yang sesungguhnya, aku sungguh merasakan sentuhan malam natal dengan harmoni keluarga kecil di Paroki Santo Yohanes Pemandi Labuha . Keesokan harinya aku diundang untuk merayakkan Natal di salah satu rumah umat. Di sana aku menikmati kue natal dan minuman seadanya namun sangat hangat. Kami berkumpul bersama dan aku pun disuguhi dengan cerita konflik sara Ambon yang ternyata juga sangat berbekas di hati umat kristiani. Mereka menceritakan secara detil segala yang terjadi di Labuha, sampai pada akhirnya umat Katholik di Labuha menjadi tidak sampai 20 orang. Mereka menggambarkan betapa sedihnya menyaksikan SD Paroki yang maju dan berjaya hangus terbakar. Gereja, pasturan serta susteran yang hancur dan terbakar dan juga pembunuhan masal yang terjadi. Kapal yang hilang dan sampai sekarang tidak diketemukan di mana isinya adalah seluruh umat Kristiani di Labuha yang akan mengungsi ke Ternate. Betapa banyak kesaksian miris yang membuat hatiku sungguh terharu di Hari Natal ini. Aku hanya bisa membangkitkan semangat mereka serta memandang segala hal sebagai pelajaran, di mana kita harus saling memaafkan serta mengasihi satu sama lain tanpa memandang siapa pun itu.
Aku pun terus berdoa di dalam hati, “Tuhan Yesus, mengapa aku harus mendengar dan malihat sendiri korban peperangan yang sangat tidak berbelas kasih ini. Mengapa konflik sara ini harus terjadi, padahal hukum cinta kasih yang Kau ajarkan seharusnya tertanam di hati kami. Maafkan kami ya Tuhan Yesus, membuat-Mu sangat terluka dengan kejadian ini.”
Natal ini, membuat hatiku sangat tersentuh dan sedikit tersayat, bukan karena marah dan dendam pada salah satu pihak konflik ini, tapi ada rasa yang juga turut terbawa dengan mengingat akan sedihnya Tuhan yesus melihat umatnya saling membunuh tanpa kasih. Kini lah saatnya kita memulai kasih yang nyata, tanpa memandang perbedaan karena kita adalah satu keluarga. Kita hidup dan terlahir di Bumi Pertiwi ini membawa amanat Bangsa yang tak mengenal latar belakang apa pun. Saling menghargai, saling menghormaati, saling memahami antar sesama dengan apa pun yang kita miliki, dengan tetap menjalankan adat-istiadat yang ada, dengan terus menjunjung tinggi kebudayaan Indonesia, inilah yang harus kita junjung tinggi.
Sebulan, dua bulan aku terus mencerna dan selalu menjadi pendengar yang baik mengenai apa yang mereka rasakan dari kedua belah pihak dan berusaha menjadi penengah juga pemersatu di antara mereka. Semua umat gerejaku sangat khawatir, bahkan mereka ingin memindahkanku dari desa penugasanku. Namun, aku berusaha menunjukkan pada mereka, betapa orang di sekeliling ku di Desa Wayatim sungguh menerimakau sebagai bagian keluarga yang mereka kasihi. Aku berusaha menunjukkan bahwa Kasih Kristus tidak terpaut perbedaan agama. Justru dengan adanya perbedaan itu, Kasih Kristus menjadi nyata.
Satu per satu tugas pun aku jalankan dengan sebaik mungkin. Di desa, di kota aku berusaha tetap menyatukan masyarakat yang merasa berbeda ini dan juga aku terus berusaha membantu pemerintah kabupaten untuk memajukan pendidikan dengan seluruh ide keberlanjutan yang ada dan sangat menginspirasi. Semua berjalan baik dan sangat memberikan pelajaran berharga bagi hidupku.
Tibalah masa ke dua yang aku tunggu-tunggu juga, yaitu Masa Pra Paskah dan Paskah. Kali ini, aku bergerak bersama seluruh umat gereja untuk memeriahkan masa Paskah. Aku mengajak mereka untuk koor dan aku juga bermazmur untuk Tuhan di masa Paskah ini. Aku beli sebuah gitar untuk gereja dan aku mengajak umat bersama-sama bernyanyi bagi Tuhan. Semua menjadi semakin indah terasa. Aku akan terus melayani sebisaku di mana pun dan kapan pun aku berada serta mengajak umat yang sudah kurang aktif ke gereja untuk bersama-sama kembali ke gereja lagi dan merakan Ekaristi Kudus bersama-sama. Aku juga akan terus berusaha mengajak umat untuk aktif koor dan menggerakkan sekolah minggu, walau hanya ada beberapa anak saja. Kendalanya adalah tugas memintaku untuk lebih banyak berada di desa dan mengikuti misa paling hanya sebulan sekali. Namun aku bekerjasama dengan beberapa orang pemuda Katholik yang bisa bergerak bersama di gereja, sebagai ketua OMK serta sebagai ketua Pendampingan Iman Anak. Aku yakin, di mana ada kesungguhan, di situlah Tuhan berkarya.
Selama masa ku berada di sini, ada banyak gejolak iman yang aku hadapi. Mulai dari aku diminta oleh umat muslim untuk pindah ke agama Muslim, ketika di desa tetangga dan aku ke gereja Kristen, aku diajak untuk pindak agama Kristen dan jangan umat Katholik, di mana umat Katholik merasa sangat minoritas dan tidak leluasa bergerak. Semua gejolak iman ini sangat membuatku berfikir dan membuat hatiku merintih. Aku tetap berusaha untuk menekankan bahwa, agama apa pun itu hanyalah identitas dan komunitas semata, yang paling kita tanamkan adalah kebaikan dan cinta kasih. Selama kita bisa, silahkan mengikuti ajaran agama masing-masing sebaik mungkin, saling menghargai, saling toleransi, saling menebar kebaikan dan cinta kasih, maka di situlah kita sebagai umat Tuhan Yang Maha Kuasa mengakui adanya Tuhan di antara kita. Ini adalah penguatan iman yang bisa aku sampaikan setiap kali aku menghadapi masalah yang serupa. Memang, jika berada di posisi mereka akan sangat sulit mengubah hati dan perasaan. Sebagai manusia ciptaan-Nya yang sering kali lemah dan jatuh dalam pencobaan, hal seperti ini merupakan tantangan besar. Namun, tidak ada hal yang mustahil bagi Tuhan. Sehebat apa pun rasa sakit yang pernah ada, semua pasti akan membaik dengan kasih Tuhan.
***
Waktu untuk cuti pun tiba, aku mengambil jatah cutiku selama dua minggu dan aku sungguh menikmati setiap sentuhan kasih Tuhan yang kuperoleh di dalam keluarga dan orang di sekelilingku. Aku mengikuti setiap misa yang ada bersama ayah dan ibuku tercinta. Aku sungguh berbenah diri dan melayani kedua orang tuaku di rumah, di mana aku belum banyak meluangkan waktuku bagi mereka. Memang sungguh benar firman yang Tuhan Yesus sampaikan bahwa jika kita ingin melayani serta mengikuti Dia, kita tidak perlu melihat ke belakang, bahkan kita harus rela meninggalkan rumah, orang tua, sanak saudara, keluarga serta semua yang kita miliki lalu pergi bersama Dia mewartakan kasih-Nya. Aku sungguh memaknai peryataan bermakna yang ini selama berada di rumah.
Sewaktu di rumah, aku membersihkan semua lemari lamaku yang aku tinggalkan. Aku menemukan sebuah DVD tentang kehidupan Tuhan Yesus Kristus yang dulu pernah menjadi koleksi favoritku semasa SD. Aku sangat menyayangi film itu dan aku berniat ingin membawanya ke desa di mana aku mengajar, sehingga aku bisa menontonnya sewaktu-waktu aku merindukan Tuhan Yesus Kristus. Tanpa disadari, ketika tiba waktunya untuk kembali ke Halmahera Selatan, aku lupa membawa DVD tersebut. Awalnya orang tuaku ingin mengirimkan DVD itu kepadaku, namun aku berfikir bahwa tinggal 4 bulan saja waktuku untuk mengabdi di mas penugasan ku ini. Mungkin nanti aku bisa mendownloadnya dari internet. Aku juga tidak ingin merepotkan kedua orang tuaku, jadi aku mengatakan pada mereka bahwa aku aku akan mencarinya sendiri di sini.
Beberapa hari kemudian, aku ke kantor pos untuk mengecek kiriman adikku dari Yogyakarta. Sesampainya di kantor pos, petugas pos memberikanku sebuah amplop surat berperangko Canada dan ditujukan kepada putra dan putri Ternate yang berbicara Bahasa Indonesia. Aku berkata kepada petugas pos, bahwa surat itu bukan untukku. Namun, Pak Pos meyakinkanku untuk menerima sepucuk surat berharga itu. Aku pun akhirnya mengambil surat itu dengan tujuan nanti isinya akan aku sebarkan kepada anak-anak ternate lainnya. Setelah mengambil surat itu, aku tidak segera membukanya. Namun, entah mengapa hati aku sangat gundah. Selama tiga hari, aku tidak bisa tenang. Hatiku menangis dan menjerit, maka aku pun berpuasa tidak makan dan tidak minum selama tiga hari itu. Aku tidak merasa lapar dan haus, namun aku sangat sedih, tangisku pun tak henti menemani setiap harinya. Akhirnya setelah hari ke tiga, aku mencoba membuka sepucuk surat yang kuperoleh dengan tidak sengaja itu. Setelah aku membukanya, betapa terkejut dan bahagianyanya hatiku ketika surat kecil itu berisikan sebuah DVD yang bertuliskan “The Life of Jesus Christ”. Jantungku berdetak cepat dan aku segera menonton film yang sangat aku tunggu-tunggu itu. Beberapa bulan yang lalu, aku pernah melihat sekilas tayangan mengenai kehidupan Tuhan Yesus, namun dengan segera film itu berganti dengan sebuah sinetron. Aku sangat ingin menontonnya, dan akhirnya aku mendapatkan hadiah istimewa itu, aku pun bisa menontonnya sekarang. DVD ini sungguh jauh di luar harapanku. Ketika di rumah DVD yang kumiliki hanya tersedia dalam Bahasa Indonesia, namun kali ini DVD yang aku terima terdiri dari 16 Bahasa dan sangat bagus serta ada doa di dalamnya. Ada pula sedikit gambaran mengenai Kitab Suci Perjanjian Lama, yaitu mengenai kehidupan Bapa Abraham.
Selama aku berada di tempat penugasan, aku sering mendengarkan serta mulai terbiasa dengan Bahasa Arab. Aku bahkan memfasilitasi pelajaran Pendidikan Agama Islam kepada anak-anakku, karena hanya ada 2 guru dan aku juga harus mengisi pelajaran khusus ini. Paling tidak, anak-anakku mendapat waktu untuk belajar Agama Islam yang didampingi oleh guru mereka. Aku sangat bersyukur karena masyarakat dan anak-anak mempercayai aku untuk menemani mereka belajar Pendidikan Agama Islam ini tanpa adanya kekhawatiran serta mereka sangat mendukungku. Setiap malam hari, anak-anak di desaku memiliki waktu khusus setelah Sholat Maghrib untuk mengaji bersama seorang nenek yang dengan tulus mengajarkan anak-anak membaca Al-Quran tanpa imbalan apa pun. Aku yakin Nek, upahmu akan sangat besar di surga nantinya. Sebelum menemani anak-anak belajar pendidikan agama Islam, aku pun mempersiapkan materi pembelajaran yang dengan baik dengan fasilitas buku seadanya dan memahami pelajaran terlebih dahulu. Dengan mempelajari buku Pendidikan Agama Islam anak-anak, aku menjadi lebih memahami serta mengerti serta ingin mengetahui Bahasa Arab lebih baik lagi. Dalam berkomunikasi bersama saudara-saudaraku di sini, aku sering menggunakan beberapa bahasa Arab umum, seperti Assalamualaikum, Waalaikumsalam, Insyaallah, Subhanaallah, Astagfirugllah, Masyaallah serta beberapa ungkapan lainnya.
DVD “The Life of Jesus Christ” yang aku peroleh tersedia dalam beberapa bahasa, diantaranya Arabic, Behdini Kurdish, Bengali, Bosnian, English, Farsi, French, Hausa, Indonesian, Punjabi, Russian, Central Asian, Somali, Sorani Kurdish, Turkish, Urdu dan Uyghur. Film ini pun aku putar perdana dalam bahasa Arab, dan ternyata hal ini sangat menenangkan hatiku. Aku pun jadi merasa bahwa Tuhan Yesus akan berbicara dalam bahasa apa pun, juga Arab dan juga menggunakan Assalamualaikum sebagai sapaan. Di dalam DVD itu, aku juga mendengar percakapan dengan ungkapan Allah Hu Akbar, dan banyak lagi bahasa yang serupa dengan bahasa yang saudara muslim gunakan. Aku semakin merasakan kasih Tuhan dan aku bisa merasakan bahwa kita ini hidup dalam satu kasih Tuhan. Apa pun suku, bangsa, bahasa, ras, agama, dan latar belakang lainnya.
Setelah menonton film itu dalam Bahasa Arab, aku mencoba menontonnya kembali dalam Bahasa Indonesia. Sungguh Tuhan Yesus luar biasa, dan aku teringat janjiku di awal, saat aku mengambil surat ini, bahwa aku akan berusaha menyebarkan isi dari surat ini kepada semua orang yang membutuhkannya. Aku sangat ingin agar semakin banyak orang yang mengenal Tuhan Yesus Kristus dan kembali kepada-Nya. Tidak perlu memilih untuk memeluk agama yang khusus, cukup mengenal dan percaya pada Tuhan Yesus Kristus sebagai Putera Bapa saja dan menyebarkan Hukum Cinta Kasih sudah sangat cukup. Aku merasa ini adalah panggilanku untuk turut membawa Tuhan Yesus Kristus ke mana pun, dan di mana pun aku melangkah. Aku berniat untuk mengontak nomor dan email yang tertera dalam akhir film tersebut serta meneruskan pelayanan ini kepada gereja-gereja yang membutuhkan. Aku yakin dan percaya bahwa Tuhan Yesus Kristus akan selalu bersama denganku ke mana pun aku melangkah. Di sini masih banyak umat yang hanya tau Tuhan Yesus saja, namun belum menghayati iman kristiani secara penuh, itulah sebabnya masih banyak konflik antar agama yang terjadi. Maafkan kami Tuhan Yesus, ajarkan kami untuk dapat selalu mengenal kasihMu dalam keadaan apa pun kami. Engkaulah Guru dan Juru Selamat kami, kini dan sepanjang segala masa. Amin.
****
Angela Aci





Komentar
Posting Komentar