Melukis Jejak Menggapai Sang Juara dalam Gerakan Indonesia Mengajar di Desa Wayatim - Catatan 14 Maret 2014

Hidup bukanlah sebuah pilihan, namun panggilan. Itulah yang aku percayai dalam setiap langkah kehidupan ini. Jika ditanya mengenai pilihan, selama ini ada banyak sekali pilihan yang telah ku tunjuk untuk melanjutkan setiap langkah hidupku. Namun apa yang terjadi, pilihanku ternyata bukanlah jalan yang sesuai dengan panggilan hatiku. Aku masih seringkali kurang peka akan bisikan hati untuk setiap panggilan hidup yang harus kujalani. Fokus dalam memilih, pada akhirnya yang terjadi adalah memilih pilihan yang berdasar pada kehendak manusiawi saja. Lain halnya dengan dorongan kuat untuk bergabung dalam Gerakan Indonesia Mengajar ini. Menjadi seorang Pengajar Muda bagiku bukanlah hal yang mudah untuk menjadi sebuah pilihan, namun dengan kuatnya panggilan hati, hadir bagi mereka, belajar dan berbagi ilmu bersama mereka adalah hal yang sangat berharga untuk dijalani.
  Aku adalah anak yang beruntung dengan berbagai panggilan hidupku. Terlahir sebagai anak pertama dari sebuah keluarga kecil sederhana membuatku dapat belajar banyak hal mengenai perjuangan hidup. Semenjak kecil, aku bersyukur untuk boleh menikmati kebebasan dan bahkan merasa ikut berjuang demi keluarga kecil di mana aku dibesarkan. Sangat berkesan di benakku, bagaimana rasanya terlahir di sebuah desa di Kalimantan Barat, yang ke mana-mana harus menggunakan motor air dan menjelajahi hutan demi hutan. Aku bahagia boleh menjadi seorang anak desa yang bisa berekspresi sebebas mungkin di alam bukit nan rindang.
  Seiring bertambahnya usia, untuk mendapatkan pendidikan ayah dan ibu membawaku ke kota. Di kota, kami pun tak kalah sulitnya untuk memulai kehidupan baru. Sebagai seorang anak, aku selalu ingin tahu mengenai segala hal yang muncul di benakku. Mulai bertanya, “Ayah, seberapa jauhkan kau harus mengayuh sepeda ini setiap hari untuk mengantar Ibu mengajar?” ataupun “Ibu, apakah sulit bagimu untuk tetap fokus mengajar sambil terus menjagaku di kelas?” Hebatnya, kedua orang tuaku sangat terbuka dalam menceritakan hal-hal yang kami lalui bersama dengan positif dan selalu menanamkan nilai-nilai kehidupan padaku. Aku belajar banyak dari perjuangan, perbedaan dan pandangan hidup yang selalu dibagikan oleh ayah dan ibuku.
  Ayahku berasal dari keluarga Jawa Muslim yang hidup dengan aturan jawanya yang sangat khas, sementara ibuku terlahir dari sebuah keluarga Dayak Katholik yang sangat unik Kalimantannya. Tugaslah yang mempersatukan mereka, ketika ayahku harus menjalankan pengabdiannya sebagai seorang polisi di desa kecil di Kalimantan Barat, dan Ibuku mengabdikan diri sebagai seorang guru SMP. Bagiku, mereka adalah role modelyang berhasil membuktikan bahwa dalam perbedaan yang begitu besar, kami menemukan kedamaian sejati.
Ku awali sekolahku di sebuah TK dan SD Paroki dengan penuh kesan bermakna. Aku sangat bersyukur karena Tuhan memberiku kesempatan berharga untuk dapat mengecap banyak prestasi dan dukungan luar biasa dari orang tua dan guru-guru yang selalu mendorongku untuk terus berhasil. Melanjutkan sekolah di SMP dan SMA tak membuatku berhenti mengukir prestasi dan pengalaman berharga. Dengan dipercayai untuk menjadi Ketua OSIS baik di SMP maupun SMA, aku belajar banyak hal mengenai kepemimpinan. Aku belajar secara langsung proses kepemimpinan dari cara didikan ayahku yang berbau militer dan penuh ketegasan serta kedisiplinan. Namun, tak kalah pentingnya aku juga belajar begitu banyak nilai kepemimpinan dari seorang guru, yang selalu menjunjung tinggi semboyan pendidikan dari Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara, “Ing Ngarso Sungtulodo, Ing Madya Mangunkarso, Tut Wuri Handayani.” Inilah cara memimpin yang paling bijaksana yang ditanamkan oleh ibuku. Beliau tak henti-hentinya mengingatkanku tentang bagaimana cara menjadi pendidik yang mengamalkan semboyan ini. Seorang pendidik yang baik adalah seorang pemimpin yang sesungguhnya. Aku selalu berusaha mengombinasikan semua nilai yang ditanamkan ayah dan ibuku dengan sebaik mungkin dan mengamalkannya seiring memaknai pelajaran dari setiap pengalaman yang aku tempuh.
  Tibalah saatnya bagiku untuk melanjutkan sekolah ke tingkat Perguruan Tinggi. Aku mendapat beberapa beasiswa untuk melanjutkan kuliah di beberapa fakultas terbaik di ibu kota provinsi Kalimantan Barat, Pontianak. Namun, kali ini aku berupaya keras untuk mendengarkan bisikan hati ke mana aku harus melangkah. Niat hatiku menuntunku untuk mengecap pendidikan di luar Kalimantan, yaitu di pulau Jawa. Aku pun melangkahkan kaki dengan yakin ke Yogyakarta, kota pelajar. Kali ini lagi-lagi aku harus memilih. Namun, tetap yang memenangkan hidup ini adalah panggilan. Aku pun memperoleh kemudahan yang luar biasa dari Tuhan untuk dapat melanjutkan studiku di Universitas Sanata Dharma, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Dengan mengambil jurusan ini, aku sungguh yakin bahwa panggilanku untuk menjadi seorang pendidik semakin nyata.
Lagi-lagi, perjuanganku untuk menempuh pendidikan di Yogyakarta sungguh tidaklah mudah. Ternyata, prestasiku selama sekolah di Kalimantan bukanlah apa-apa ketika aku harus bersaing di Yogyakarta. Aku heran pada mereka yang bisa memahami dengan mudah semua materi perkuliahan yang disampaikan oleh dosen dalam Bahasa Inggris. Sementara aku, mencoba selalu duduk di pojok kiri atau kanan kelas namun tetap di depan supaya aku bisa mendengar dengan jelas apa yang disampaikan oleh dosen. Setiap tatapan dosen adalah sebuah tembakan tajam bagiku. Aku takut akan pertanyaan, karena aku tidak akan paham pertanyaannya apalagi untuk menjawabnya. Semester pertama adalah batu loncatan yang sangat dasyat untukku terus bertahan dalam menempuh pendidikan sarjanaku.
Aku pun mulai kritis menyikapi pertanyaan-pertanyaan besar yang muncul di benakku, “apa yang menyebabkan perbedaan luar biasa ini dalam pendidikan di pulau Jawa dan di pulau Kaimantan? Mengapa aku merasa belum membawa pengetahuan apa pun dibanding mereka yang bersekolah di Yogyakarta?” Pertanyaan itu pun semakin membuatku bersemangat untuk terus belajar dan mengejar ketertinggalanku. Aku tak mau menyerah sebelum aku memperoleh jawaban atas pertanyaanku ini. Aku memulai semuanya dari bawah, dan belajar lebih giat untuk bisa meningkatkan pencapaian hasil belajarku. Aku tak malu bertanya dan terus bertanya mengenai apa saja yang belum ku pahami. Ku temui satu per satu mereka yang hebat di kampus untuk belajar dan bertanya banyak hal. Mereka tak bosan-bosannya memberi penjelasan padaku, bahkan mereka menerimaku sebagai sahabat belajar dan membimbingku untuk mengejar ketertinggalanku. Kami pun berbagi pengalaman dan pengetahuan satu sama lain.
Metode pembelajaran dan cara belajar yang sangat hebat dan belum pernah aku peroleh di masa sekolahku sebelumnya ternyata mendorongku untuk mengejar ketertinggalanku. Dosen-dosen luar biasa yang mengajar dengan penuh kualitas membuatku merasa menjadi seorang pelajar yang beruntung. Ku jalani segala macam kegiatan yang bisa mendukungku mengembangkan dan menerapkan ilmu yang telah kuperoleh, agar ilmu itu segera bermanfaat bagi orang lain dan aku pun bisa belajar lebih giat lagi. Puji Tuhan, pada akhirnya aku berhasil menyelesaikan studi sarjanaku tepat waktu dan dengan pencapaian yang memuaskan.
Seiring proses perjuangan belajarku aku pun memperoleh jawaban atas pertanyaan yang selama ini menghantui ku. Kami-kami ini, anak sekolah yang jauh dari pusat Jakarta ternyata sangat kurang terperhatikan dalam proses belajar mengajar maupun upaya pengembangan ilmu pengetahuan semaksimal mungkin. Aku adalah salah satunya, semasa sekolah, aku sangat gemar belajar Bahasa Inggris. Aku belajar sendiri dari berbagai sumber (kamus, koran, majalah, buku pelajaran dan program televisi) untuk mengembangkan kemampuan Bahasa Inggrisku. Tak disangka, sewaktu  SMA aku tidak mendapatkan guru Bahasa Inggris. Aku merasa sangat kecewa karena saat itu kelas Bahasa Inggrisku sering kosong dan kalaupun ada yang mengajar adalah guru yang bukan dengan latar belakang guru Bahasa Inggris. Rasa kecewaku sampai-sampai membuatku ingin pindah sekolah, padahal sekolah yang aku pilih untuk melanjutkan SMA adalah sekolah negeri terbaik di kotaku dan sempat menjadi sekolah satu-satunya yang berstandar internasional. Meskipun demikian, aku terus bersyukur karena paling tidak ada guru yang mau masuk untuk mengajarkan Bahasa Inggris.
Hal lainnya yang juga tak disangka adalah, sewaktu Ujian Nasional Bahasa Inggris, aku sama sekali tidak dapat memahami soal ujian listening dan bahkan soal lainnya. Semua kata yang digunakan adalah kata keramat bagiku yang menyebutnya saja aku tidak bisa, apalagi mengartikannya. Pengawas ujian pun meninggalkan kelasku untuk beberapa saat, dan sebagai anak SMA yang tak mengerti apa-apa, kami pun menganggap itu sebagai kesempatan besar dan dengan leluasa bertukar jawaban, entah benar atau pun salah yang penting kami mengisi lembar jawaban. Sungguh ajaib dan tak terduga, ketika pembagian hasil UN, Bahasa Inggrisku mencapai nilai tertinggi, yaitu 98. Aku sangat kaget dan takut luar biasa. Aku tak bisa menjawab ujianku, dan aku bahkan tak mengerti apa-apa mengenai Bahasa Inggris. Aku hanya pasrah dan berusaha meyakinkan diri bahwa mujizat terjadi pada hasil UN-ku.
Rentetan peristiwa menggapai pendidikan yang ku alami ternyata memanggilku untuk lebih mendalami proses pendidikan itu sendiri. Aku bergabung dalam Gerakan Indonesia Mengajar, agar aku bisa menguak lebih dalam proses pendidikan yang terjadi di belahan lain Indonesia, yang entah apakah mereka juga mengalami hal yang sama dengan yang ku alami. Aku ingin sekali masuk ke dalam proses itu, sehingga aku bisa mengalami sendiri apa sebenarnya yang terjadi pada pendidikan kita saat ini. Yang paling utama, aku datang di pelosok negeri manapun, ingin menggapai sang juara yang ada di pelososok negeri yang mungkin mereka juga tak memiliki kesempatan besar untuk mengembangkan diri mereka terutama ilmu pengetahuan yang mereka miliki semaksimal mungkin. Aku yakin, bahwa mereka yang ada di sudut Indonesia sebenarnya adalah bakal calon pemimpin masa depan yang tak kalah berkualitasnya dibandingkan mereka yang beruntung terlahir di dalam dan pinggiran Ibu Kota.
Menggeluti dunia Indonesia Mengajar, aku mengabdikan diri pada sebuah SD di Desa Wayatim, Kecmatan Bacan Timur Tengah, Kabupaten Halmahera Selatan. Aku ditempatkan di sekolah itu sejak November 2012 dan mengabdikan diri selama 14 bulan. Sebelum terjun ke desa penempatan, aku mendapat pelatihan intensif Gerakan Indonesia Mengajar selama 2 bulan. Pelatihan ini berisikan berbagai hal mengenai peningkatan kompetensi pedagogik dan juga kepemimpinan. Dengan bekal selama dua bulan ini, aku pun siap lahir dan batin untuk mulai mengabdi, menginspirasi dan juga belajar secara langsung mengenai Indonesia mulai dari akar rumputnya.
Awal pengabdian menempaku untuk fokus pada tujuan memajukan pendidikan Indonesia mulai dari skala dasar, yaitu di SD Penempatanku. Sungguh tak disangka, setibanya aku di SD, hanya ada satu guru yang menyambutku. Ternyata, selama ini beliau mengajar sendiri di SD tersebut dengan status guru PTT daerah. Luar biasa sekali pengabdian Sang Guru ini. Aku tak habis-habisnya berfikir apa yang dengan kuat mendorongnya untuk bersedia mengabdikan diri di desa dejauh dan seterpencil ini hanya dengan gaji 650 ribu per bulan, yang dibayarkan setelah 4-6 bulan sekali. Pak Asri Ishak, adalah teman berjuang pada awal pengabdianku. Aku, belajar banyak hal mengenai ketulusan dari beliau. Ditambah lagi semangat murid-murid desa dan masyarakat yang dengan bahagia menerima kedatanganku untuk mengabdi di sana. Padahal, aku adalah seorang Katholik yang untuk pertama kalinya sebagai seorang non muslim hidup bersama dengan mereka. Mereka membuka mata hati mereka dengan sepenuhnya untuk menerimaku sebagai keluarga baru mereka dan hidup dalam keharmonisan.
Aku bahagia bisa menjadi salah satu bagian dari mereka. Anak-anak didikku berkembang dengan sangat pesat terutama dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan mereka. Pada awalnya, ketika ditanya akan melanjutkan sekolah ke mana setelah lulus SD, mereka hanya menjawab Labuha, ibu kota Kabupaten Halmahera Selatan. Kini, mereka berani mermimpi untuk suatu saat bersekolah di Jakarta dan bahkan menyebutkan beberapa negara lain seperti Inggris, Amerika Serikat dan juga Jerman. Aku tak akan pernah menutup mimpi mereka. Tak ada yang mustahil ketika kita berusaha semaksimal mungkin. Cerita hidupku yang juga merupakan salah seorang desa yang berjuang sampai ke Yogyakarta, ternyata begitu menginspirasi mereka untuk dapat melanjutkan sekolah ke luar Maluku Utara. Aku sangat bersyukur, walaupun cerita hidup ini sangat sederhana, ternyata dapat membuat mereka berani bermimpi. Dan salah satu mimpi mereka kini telah menjadi kenyataan dengan usaha yang luar biasa, yaitu pada bulan November 2013 yang lau, dua orang siswi di SD Negeri Wayatim berhasil menjadi peserta Konferensi Penulis Cilik Indonesia 2013 yang digelar di Jakarta oleh Kementerian Pendidikan Indonesia bekerjasama dengan Mizan. Ini adalah pertama kalinya ada siswa/i SD Negeri Wayatim yang bisa menginjakkan kaki ke Jakarta. Bahkan peristiwa ini telah membuat masyarakat terharu dan sampai-sampai menitikkan air mata karena mereka sempat tak yakin bahwa anak mereka mampu bersaing sampai ke Jakarta. Hal ini membuka mata dan pikiran tidak hanya masyarakat desa di pelosok, tetapi juga saya, bahwa memang, Sang Juara yang ada di pelosok Indonesia ini adalah Sang Juara yang sesungguhnya. Mereka hanya perlu sedikit difasilitasi untuk dapat mengembangkan diri dengan maksimal.
Berada dalam keadaan pendidikan yang sedemikian sulitnya, aku tak berhenti berupaya agar pemerintah daerah setempat dapat membagi sedikit perhatian bagi keadaan SD kami tercinta. Dengan semangat membangun pendidikan bersama, kami bergerak untuk menambah jumlah guru di SD N Wayatim. Keadaan desa yang sangat jauh dari pusat kota, ketidak tersediaannya signal dan listrik serta jalur transportasi yang hanya bisa ditempuh dengan jalur laut dua kali seminggu ini ternyata membuat para guru yang ditempatkan di desa tak kuasa mengabdi dengan berbagai macam pertimbangan. Satu per satu mereka datang, satu per satu pun mereka beranjak pergi. Kini, di penghujung masa penugasanku kembali Pak Asri lah yang masih tetap bertahan mengabdi di SD kami. Melihat keadaan belajar anak-anak yang pada akhirnya kurang terperhatikan sempat membuatku merasa hanya sanggup berdoa untuk dapat meningkatkan jumlah dan kualitas guru di desa. Syukurlah, pada akhirnya dengan berbagai upaya menyadarkan masyarakat akan pentingnya penambahan guru di SD tersebut, maka masyarakat mengambil kebijakan bersama untuk mengangkat beberapa guru honorer asli desa dengan lulusan SMA yang bersedia mengabdi di SD. “Tak ada rotan, akar pun jadi”, inilah perumpamaan yang tak henti-hentinya disampaikan oleh masyarakat dan guru-guru di SD. Aku pun berupaya untuk mengadakan pelatihan intensif bagi para guru baru yang mengabdikan diri setulus hati demi peningkatan mutu pendidikan di SD N Wayatim. Pemerintah daerah pun sangat mendukung para guru asli desa untuk meningkatkan kualitas mereka dengan memberikan beasiswa S1 bagi pada guru di tahun ajaran mendatang. Tak ada wacana, semua akan berjalan sesuai rencana dan usaha yang dilakukan. Aku berupaya dengan semaksimal mungkin, agar para guru kelak dapat meningkatkan kualitas mengajar mereka sehingga mereka, yang asli desa dapat membangun desa mereka sendiri sebaik mungkin.
Masa peralihan pun mulai kujalankan dengan menhitung mundur hari demi hari untuk pergantian Pengajar Muda V dan VII. Kami bekerja berkesinambungan, mulai dari Pengajar Muda III sebagai Pengajar Muda angkatan pertama di desa Wayatim ini, aku sebagai yang ke dua dan Pengajar Muda VII sebagai yang ketiga. Harapannya, di tahun yang ke 5 di Kabupaten Halmahera Selatan ini, semua proses pendidikan dapat berjalan dengan adil dan merata mulai dari ibu kota sampai di desa-desa terpencil di Kabupaten ini.
Pendidikan merata bukanlah pendidikan yang dipukul rata. Sungguh tidaklah adil bagi mereka, sang juara yang ada di ujung Indonesia jika harus menjalankan ujian kelulusan yang disamakan dengan sekolah-sekolah terdepan di pusat kota. Kami bukan tidak mampu, namun kami belum siap dengan kurangnya fasilitas pendukung belajar, mulai dari kuantitas dan kualitas guru, media pembelajaran yang mendukung dan fasilitas belajar lainnya. Mungkin daripada memukul rata target pencapaian pendidikan, akan menjadi lebih bijaksanalah ketika yang diratakan terlebih dahulu adalah jumlah guru berkualitas yang dapat mengabdikan diri di seluruh pelosok negeri. Kalau pun tidak untuk selamanya, namun adanya pemerataan jumlah guru PNS yang bisa mengabdikan diri paling tidak satu tahun pengabdiannya di desa akan sangat menginspirasi dan membuka wawasan para murid, guru dan terlebih lagi masyarakat akan kemajuan pendidikan yang harus digapai.
Secara pribadi, ku akui panggilanku selama 14 bulan ini untuk mengabdikan diri di SD N Wayatim, Halmahera Selatan membuahkan begitu banyak pelajaran dan pengalaman berharga yang tak kan pernah terbelikan. Pada akhirnya, aku lah sesungguhnya yang belajar. Aku belajar langsung dengan merasakan kehidupan yang mereka jalanji. Dari barat Indonesia, aku melangkahkan kaki ke Timur Indonesia, semua sama dan perhatian masih belum merata. Perpanjangan tangan pemerintah untuk melanjutkan perhatian itu berkurang dan bahkan terputus entah di bagian mana. Tak bisa menyalahkan keadaan, karena keadaan sangat tergantung dengan SDM yang ada. Kita lah yang menciptakan keadaan dan kita lah yang merasakannya.
Kelas kehidupan ini membuahkan pemikiran baru dan membuka jiwa dan benakku untuk terus belajar dan berbagi ilmu yang kuperoleh. Apa pun caranya, sekecil apa pun itu, ketika ilmu itu diterapkan sehingga dapat menyentuh mereka yang belum tersentuh, di situlah makna kehidupan sesungguhnya terjadi. Aku merasa puas dengan kesempatan mengabdi bersama Pak Asri dan guru lainnya yang sungguh tulus mengabdi demi kemajuan pendidikan dengan apa pun yang mereka miliki.
Satu per satu guru ku tanyai mengenai harapan mereka untuk pendidikan di SD terpencil ini. Tak lain, yang mereka inginkan adalah, adanya selalu kehadiran guru muda dari kota yang mau mengabdikan diri bagi desa mereka sampai selama-lamanya. Tak akan mudah menjawab harapan ini. Yang terpenting adalah, bagaimana menggerakkan seluruh orang terdidik akan kewajiban mendidik bagi mereka yang sangat membutuhkan. Membuat semangat ini menyebar dan menumbuhkan kesadaran bahwa setiap mereka pasti bisa mengembangkan diri asal ada kemauan. Tak perlu menunggu, berusaha dan berupaya untuk maju dan memajukan desa sudah sangatlah penting bagi mereka yang siap mengabdi.
Jika ditanyai tindak lanjutku untuk hasil pembelajaran selama 14 bulan ini, masih begitu banyak mimpi yang aku angankan. Namun, yang terpenting, bagaimana caranya aku meningkatkan ilmu ku sampai ke negeri seberang, memperluas wawasan mengenai pendidikan dan kemudian kembali ke negariku tercinta untuk mengabdikan diri melalui berbagai macam peluang yang ada ataupun menciptakan peluang bagi mereka yang mau mengabdi dan belajar.
Aku belajar untuk berbagi dalam keadaan apa pun, dan aku belajar untuk mengabdi bagi Negara Indonesiaku tercinta. Ini lah yang akan selalu aku tanamkan pada Sang Juara di mana pun mereka berada, bahka kita terlahir di bumi pertiwi dan kita berkewajiban untuk memajukan bumi di mana kita dilahirkan. Tak ada hati dan jiwa yang dapat menghindar dari panggilan Sang Bumi Pertiwi untuk menanam benih pengabdian. Hanya saja, waktu untuk menjawab panggilan itu berbeda-beda dari satu pribadi ke pribadi lainnya. Tak hanya waktu menjawabnya yang berbeda, namun porsi, pola dan caranya pun berbeda-beda, tinggal bagaimana kita bersinergi untuk dapat mengambil porsi pengabdian yang sesuai dengan panggilan hati kita. Semua bermanfaat, semua bertautan dan semua menciptakan karsa yang sempurna jika dilakukan dengan tulus dan adil. Hati setiap pribadi lah yang menjawab, kapan pun itu, aku yakin bahwa ketulusan dan kebenaran akan selalu menular dan berkembang demi kemajuan bangsa Indonesia yang kita cintai ini. Semangat mengabdi, semangat berkarya demi Indonesia.

_Angela Aci_


Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Borneoku Sayang..... Borneoku Malang....” Tanah Kalimantan - Catatan 26 Juli 2013