“Borneoku Sayang..... Borneoku Malang....” Tanah Kalimantan - Catatan 26 Juli 2013
Menginjakkan kaki kembali di tanah Borneo, suasana segar, rumah panggung kayu sederhana di sepanjang jalan nan sepi disambut hujan lebat tak membuatku berhenti menikmati segarnya tanah kelahiranku. Perjalanan sore itu sangat mengharukan. Setibanya di Pontianak, aku langsung berangkat menuju Sanggau, kira-kira 8 jam lamanya. Waktu lama ini diperlukan karena rusaknya jalan yang ku tempuh untuk sampai ke kota kecil, di mana aku dibesarkan. Nikmat hati sepanjang perjalanan mengingatkan hidupku selama 8 bulan terakhir di Maluku Utara, Indonesia Timur. Di sana, setiap hari perjalananku menempuh lautan luas dan indah. Kini, aku sedih... Perjalananku ke desa kelahiranku menempuh hutan sawit yang semakin meluas dan mengikis rindang hutan Kalimantan. Hatiku pun ikut terkikis. Tak lama lagi, tanah luas Kalimantan akan menjadi lahan perkebunan menghasilkan bagi banyak orang pintar berbisnis. “Bagaimana dengan mereka yang memiliki tanah dan tak bersekolah?”
Dengan mudah iming-iming berbagi hasil menggiurkan ditawarkan pada mereka. Namun, dampak sangat buruk yang ditimbulkan semakin lama semakin nyata. Hujan lebat sepanjang jalan, air mengalir deras dan menggenang di setiap lubang besar setengah meter di jalan raya. Mobil kami tergenang, motor tak bisa lewat. Hanya truk besar pengangkut hasil perkebunan yang mondar mandir di jalan raya milik bersama ini. Tak ada penyerapan yang dulu sangat cepat dengan rimbunya pepohonan besar khas Kalimantan.
Dulu, sebelum berangkat ke Maluku, aku bertekad untuk belajar banyak hal dari Timur Indonesia dan kelak bisa mengabdi di Barat Indonesia, desa kecilku. Sebelumnya, aku tak begitu peduli dengan keadaan Borneoku. Pembabatan hutan yang berganti dengan perkebunan sawit, kekacauan yang terjadi antara para politikus handal dalam memperoleh kursi pemerintahan, serta turun temurun permasalahan yang ada sampai pada pendidikan. Aku tak peduli. Sekarang, ketika aku sudah mengabdi pada Indonesia selama hampir delapan bulan di desa sana, merasakan secara langsung penderitaan yang ada serta ketidak adilan yang merata membuatku tak berhenti berfikir di sini.
Semua sama, dari ujung ke ujung Indonesia, tak jelas ujung pangkal yang mana, semua kini semakin jelas. Sungguh, mata hati ku terbuka lebar untuk menyimak dan merasa setiap kecil hal yang terjadi di sini. Tak kuat hati tak meneteskan air mata haruku. Borneoku sayang, terus pancarkan keindahanmu. Tak tahu harus memohon pada siapa. Aku adalah salah seorang anak Kalimantan yang sungguh berharap cukup untuk lahan sawit ini. Sungguh cukup luas. Menanam kembali dan menjaga hutan serta pohon-pohon yang kelak akan dapat dinikmati oleh generasi mendatang. Kalau begini caranya, nanti kami akan minum air bersih darimana? Kami akan memakan buah hutan dari mana? Kami akan melihat Orang Utan di mana? Kami akan memancing ikan di mana? Kami akan menanam di mana?
Tolong kami, mulai dari sekarang.


Komentar
Posting Komentar