“Inilah Kisah Mereka yang Berani Melangkah.....” Perjuangan Para Murid Wayatim - Catatan 12 Oktober 2013
Senja kota Labuha dengan kelembutan cahaya yang meredup melengkapi suasana sore perjumpaan melepas rindu itu. Siswa-siswi SD desaku yang berani melangkah ke kota untuk melanjutkan mimpi mereka mulai berbagi satu sama lain. Pelukan hangat mereka yang hampir 4 bulan ini tak terasa mengingatkanku akan perjumpaan pertama kami di Desa Wayatim. Namun ini sedikit berbeda, kami bertemu di Kota Labuha, yang membuatku merasa betapa desa itu bisa meluas sampai ke kota seiring meluasnya mimpi dan pikiran mereka. Aku sedikit berangan, akankah suatu saat nanti kujumpai mereka di kota lain, mungkin Yogyakarta, Jakarta, Pontianak atau bahkan kujumpai mereka di negara lain, Inggris, Amerika, Jerman.... Tak ada yang mustahil ketika kita berani berusaha dengan sungguh.
Melihat semangat mereka untuk terus melangkah, membuatku tak dapat berhenti untuk terus berjuang menggapai mimpi. Sungguh, semua berawal dari sebuah mimpi yang mengajak kami mulai menguntai benang kehidupan demi masa depan yang lebih baik.
“Bu Enjel, kita so jadi guru sekarang”, terdengar celetukan seorang mantan muridku yang menceritakan betapa dia senang belajar di kota yang bisa menjadi tempatnya belajar dan mengajar teman-temannya yang lain. Bangganya dia ketika para gurunya di kota memprediksikan bahwa dialah yang akan memperoleh juara I. Aku terus memotivasinya untuk tetap berusaha, agar prediksi itu segera menjadi sebuah kenyataan.
Satu per satu dari mereka tak sabar untuk menceritakan prestasi yang mereka raih di kota dengan optimis dan penuh semangat. Aku sangat terharu dan sungguh merasakan kebahagiaan mereka, yang pada awalnya masih sangat minder untuk berada di kota.
“Yuli so pacaran Ibu...”, eitsss, celetukan ini yang spesial sore itu. Tawa mereka serentak menyambar kalimat sederhana nan bermakna tersebut. Yuli adalah mantan murid SD ku yang kuakui tercantik di desaku. Wajahnya yang ke-Arab-Araban, kulitnya yang putih, hidung mancung dan sorot mata tajam yang indah membuat setiap tatapan berpusat padanya. Sejak awal dialah yang menarik perhatianku, selain penampilannya yang menarik, Yuli sangat rajin membantu guru-guru serta keaktifannya di kelas dan dalam memimpin teman-temannya menunjukkan bertapa berkualitasnya dia dalam akademik dan kemampuan lainnya.
“Tarada Ibu, dong suka kasi ejek kita saja”.... Mencoba untuk meluruskan gosip itu, ternyata membuatnya semakin tersipu malu. Aku yakin, pasti banyak teman-teman SMP-nya yang menyukainya. Aku pun segera membuat wawancara sederhana dengan seorang mantan guru yang dulu bertugas di desaku, namun sudah pindah ke kota.
“Ibu Jana, dulu mulai pacaran kelas berapa?” Pertanyaan sederhana inilah yang aku pakai untuk menarik kesimpulan berharga bersama anak-anakku. Ibu Jana pun menjelaskan dengan gaya keibuannya bahwa ia pertama kali pacaran setelah lulus SMA. Dengan segera Ibu Jana pun mengatakan kepada murid-muridku agar boleh berpacaran setelah lulus SMA.
Senyum lugu dan tatapan penuh perhatian mereka menunjukkan betapa mereka mulai tertarik akan topik ini. Aku pun melajutkan pertanyaan yang sama pada seorang guru, Pak Aci yang sampai saat ini masih setia menjadi rekan mengajarku di desa.
“Kalau saya itu, pacaran dari SMP....” Nah, ini dia..... Serentak tawa gembira anak-anak seakan merasa bahwa mereka mendapat jawaban untuk rasa yang mereka alami di jenjang SMP ini.
“Eh tunggu dulu...,” lanjut Pak Aci.
“Saya memang pacaran dari SMP, tapi cuma lewat surat. Saya bilang suka dan kami berpacaran. Tapi tidak lama, karena waktu itu saya pikir lebih baik belajar saja dulu. Jadinya setelah SMA baru pacaran lagi. Kalau saya pacaran, saya jaga pacar saya dan kita belajar bersama. Tapi tetap saja belum cocok, jadi saya pacaran lagi deh waktu kuliah dengan Bu Apri dan sampai menikah....” Suasana menjadi sangat terfokus pada cerita Pak Aci tersebut. Kebetulan istri Pak Aci juga sempat mengabdi di desaku, jadi anak-anak juga mengenal beliau sebagai seorang guru yang baik hati.
“Jadi, Bapak pe pacar banyak....?” Terlontar pertanyaan dari seorang mantan muridku.
“Iya banyak, kan pacaran seperti berteman. Saling mengenal tapi tidak boleh melebihi batas.”.....
“Ciyeeeee........” seperti biasa, kata ini selalu menghiasi setiap kalimat yang menurut mereka bermakna.
Aku pun mengajak mereka untuk bisa fokus belajar dulu dan membiarkan semua rasa itu sebagai hiasan dalam belajar. Silahkan menganal teman di SMP dengan baik dan salinglah memberi semangat. Nanti akan ada waktunya untuk punya cerita seperti Pak Aci dan Ibu Jana. Mereka pun terus tersenyum dan aku terus menceritakan sebuah cerita sedih ketika ada salah satu kakak kelas mereka yang kembali ke desa karena sudah hamil. Di sini, sepertinya sudah menjadi hal yang biasa bagi pelajar untuk berhenti bersekolah karena pergaulan yang kurang tepat. Aku hanya berusaha untuk mengajak mereka menggapai mimpi mereka dengan terus belajar dan berusaha menghindari pergaulan yang kurang baik sejak awal.
*****
Ceritapun berlanjut dengan mereka saling berbagi mengenai pelajaran di SMP yang mereka sukai. Ku lanjutkan untuk menanyakan mereka mengenai cita-cita yang akan mereka raih dengan menyukai pelajaran itu. Satu per satu dari mereka menceritakan cita-cita mereka ketika tamat SMP, SMA dan kuliah. Ada yang bermimpi untuk menjadi seorang dokter dengan menykai pelajaran Biologi, ada yang sangat menyukai Fisika dan siap untuk menjadi seorang ilmuwan, ada yang mermimpi bahwa dengan menyukai pelajaran Bahasa Indonesia dia akan menjadi seorang Guru yang hebat, ada yang sangat menyukai PKn dan mau menjadi seorang hakim, ada yang menyukai IPS dan bercita-cita untuk menjadi seorang Polisi yang mengabdi dengan tulus, dan banyak lainnya. Mendengar mimpi dan cerita mereka sungguh membangkitkan semangatku serta mengingatkanku akan berharganya masa depan mereka yang masih cukup panjang untuk mereka lalui.
Aku rasa dengan mimpi-mimpi itu, sudah cukup bagi mereka untuk menggapai hidup yang lebih baik bagi hidup mereka dan Indonesia. Tinggal bagaimana lingkingan membentuk mereka kelak.
Kuserahan seluruh harapanku akan mereka pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Aku sungguh berharap suatu saat nanti aku dapat melihat keberhasilan mereka. Itulah sebuah sebahagiaan luar biasa bagi seorang guru, di mana dan di saat dapat melihat anak didiknya menjadi orang yang berhasil dan sukses bagi masa depan Indonesia.
Love, Angela Aci











Komentar
Posting Komentar