Apa Itu Integritas? Indonesia Mengajar - Catatan 9 Juli 2013
Di mana-mana orang mempermasalahkan integritas. “Bangsa Indonesia carut marut karena integritas yang tidak lagi terbangun.” Terlalu banyak basa-basi tentang integritas. Apakah setiap individu sudah mecoba menelaah jejak yang terukir dalam menjalankan tugas, kewajiban serta tanggungjawab terhadap Bangsa Indonesia ini?
Integritas, sebuah kata yang sungguh mudah diucapkan. Di luar itu, integritas adalah hal yang sangat membutuhkan kekuatan hati nurani serta iman untuk melaksanakannya.
Berkaca dari pengalaman ini, betapa hancurnya hati saya ketika harus menghadapi kenyataan menyayat rasa, saat mengetahui integritas anak didik, generasi muda Indonesia harus ‘dihancurkan’.
Di sini, saat ini saya berdiri sebagai seorang guru biasa yang setiap hari berjalan kaki, selangkah dua langkah, disusul oleh anak-anak didik dengan penuh semangat menuju ke sekolah untuk menuntut ilmu. Saya menyaksikan betapa indahnya binar mata mereka, ketika segala sesuatu yang saya sampaikan merupakan hal yang membuat mereka ‘ingin menjadi tahu bahkan ahli’ dengan berbagai percobaan dan usaha yang mereka lakukan.
Sampai pada saat dan hari yang ditunggu-tunggu, dobrakan kejam terimbas pada tiap wajah mereka satu per satu. “Kalian tidak perlu menjawab soal-soal Ujian Nasional ini, silahkan kosongkan, yang penting isi dengan benar dan tepat nama dan nomor peserta ujian kalian, pasti kalian lulus.” Sebuah peryataan yang sungguh tidak bisa digambarkan dengan filosofi apa pun bahwa tanpa mengisi lembar jawaban, mereka akan lulus. Gambaran melalui cerita pun tak kan bisa memperjelas ‘pernyataan’ ini, yang akhirnya menjadi sebuah ‘pertanyaan’ melegendaris terlontarkan oleh anak didik saya seusai Ujian Nasional.
Dengan wajah bingung bercampur cemas akan kelulusan mereka, siswa-siswi kelas VI SD ini menceritakan kepada saya persaan yang mereka hadapi selama Ujian Nasional. “Ibu, torang bingung. Kong soal-soal Ujian Nasional torang tara kasi de pe jawaban samua. Torang kasi isi de pe jawaban yang torang bisa saja. Kong pengawas bilang akan torang tetap lulus samua. Torang benar akan lulus Ibu?”____ (mereka polos, jujur dan bertanggungjawab).
Merekalah guru yang sebenarnya saat ini. Mereka memberi pelajaran hidup yang sungguh akan menuntun kita untuk memiliki integritas yang seharusnya dapat diandalkan.
Hati nurani dan pikiran mereka sudah teracuni dengan fakta bahwa Ujian Nasional yang mereka hadapi hanyalah sebuah hal klise, yang dijunjung tinggi untuk bersombong ria ketika sebuah sekolah dapat meluluskan 100% siswanya, dengan nilai terbaik dan tentunya cara yang ‘tepat’.
Ujian Nasional sesungguhnya adalah tahap yang sangat bernilai untuk mengevaluasi pencapaian belajar anak didik Indonesia, jika dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab. Namun, pada kenyataannya, bahkan untuk ujian nasional pun, kita para guru di sekolah pelosok negeri ini belum siap. Apalagi harus berhadapan dengan kurikulum baru setiap periodenya?
Sebuah peribahasa yang mengatakan ‘Guru kencing berdiri, murid kencing berlari’ ini sungguhlah tepat. Sebagai seorang guru, saya sangat berhati-hati dengan peribahasa yang satu ini. Jangan sampai saya bahkan memberi contoh buruk kepada anak didik saya yang nantinya akan mengahncurkan masa depan mereka, masa depan Indonesia.
Guru, sungguh adalah kunci dari semua ini. Menjadi seorang guru bukan hanya untuk mendapat pekerjaan bergaji PNS yang sangat membanggakan, apalagi dengan adanya tunjangan bernama sertifikasi. Pemerintah sudah dengan susah payahnya berusaha memberikan penghargaan pada setiap guru yang sungguh terpanggil, berintegritas dan menjalankan tugas serta tanggungjawabnya sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa dengan luar biasa. Namun, pada kenyataannya banyak guru yang bahkan mengejar berbagai macam tunjangan semata, tanpa melaksanakan tugasnya untuk mencerdaskan serta menanamkan moral yang baik pada anak bagsa. Hak dahulu baru kewajiban. Bahkan yang lebih parah, hak saja tanpa kewajiban. Korbannya, adalah anak didi kita sendiri.
Pendidikan adalah kunci utama kemajuan bangsa. Pendidikan haruslah menjadi hal yang paling utama harus dijunjung tinggi. Jangan pernah mengkamuflase kata ‘pendidikan’ sebagai wadah untuk ‘bermain’. Dalam dunia pendidikan, hanya orang-orang yang sungguh berdedikasi lah yang berhak atasnya.
Sampai pada saat ini, tidak ada kata terlambat untuk membangun harkat dan martabat penerus bangsa. Kita sama-sama belajar, kita sama-sama membangun integritas itu. Cintai anak didik lebih dari apa pun yang kita miliki. Mereka lah hasil dari usaha kita. Mengapa tidak kita ubah peribahasa itu menjadi ‘Guru merajut sambil berlari, murid berlari sambil merenda’. Dalam hal ini yang ingin saya sampaikan adalah, bukan saatnya lagi bagi kita para guru untuk hanya bersantai ria dalam berbagai gejolak permasalahan yang ada saat ini. Semakin kita berdiam, semakin bartambahlah korban masa depan yang seharusnya menjadi tanggung jawab kita. Apakah kita tega melihat anak didik kita tidak siap dan bahkan hancur dengan berbagai perusakan integritas yang dengan tidak sengaja kita contohkan pada mereka saat ini? Hal ini akan berdampak pada masa depan mereka, masa depan kita, dan pastinya masa depan Bangsa Indonesia.
Saatnya kita membenarkan sedikit demi sedikit hal-hal yang ada dalam diri kita sambil terus belajar untuk mengembangkan diri sebagai seorang guru yang berdedikasi. Kerendahan hati dan jiwa besar sangat dibutuhkan dalam hal ini, di mana kita dituntut untuk terus belajar, menegmbangkan serta membuka diri akan perubahan positif, tanpa memandang usia serta jabatan yang hanya akan membuat kita ‘stuck’. Kita harus terus mengejar ilmu seiring perkembangan zaman untuk dapat mendidik dengan layak, bukan mencari ‘title’ untuk menaikkan jabatan dan status sosial semata.
Dengan adanya perubahan dan perkembangan seiring dengan proses mendidik yang kita lakukan, maka anak didik kita akan terus belajar lebih jauh dan bahkan mereka bisa mencapai prestasi spektakuler di luar dugaan kita. Sungguh, kemampuan anak didik kita sangat luar biasa, asal mereka dituntun dan diberi peluang untuk mengembangkan diri secara adil dan merata.
Teruslah memajukan pendidikan, bergeraklah dari hal termudah yang bisa kita lakukan bersama anak didik kita. Mereka sangat membutuhkan guru yang memberi mereka pandangan cerah akan fungsi pendidikan yang mereka geluti sejak mereka bersekolah. Terus berjuang dan berkarya bagi pendidikan Indonesia. Junjung tinggi integritas kita sebagai seorang guru yang berdedikasi. Mari kita bersama-sama mewujudkan secara nyata slogan pendidikan yang telah diungkapkan oleh seorang Pahlawan Nasional, Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara; Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani; Di Depan Memberi Contoh, Di Tengah memberi Semangat, Di Belakang memberi Dorongan. Itulah Pendidikan Indonesia. Biarlah suatu saat nanti negara lain bisa belajar dari semangat Pendidikan di Indonesia ini.
Sebuah Refleksi Diri
Angela Asri Purnamasari
Pengajar Muda V Indonesia Mengajar, Kabupaten Halmahera Selatan



Komentar
Posting Komentar