Mengapa Pak Anies Di-reshuffled dari Menteri Pendidikan? - Catatan 31 Juli 2017

Beberapa hari ini saya mencoba fokus dan mencari jawaban, mengapa? Mengapa harus beliau dan beliau dan beliau lainnya.
Ya, memang benar, ada banyak hal yang sudah dilakukan Bapak yang satu ini. Mulai dari mengajak kami, bukan hanya sekedar pendukung, tapi kami mengenal beliau seperti beliau mengenal kami, untuk mendukung ‘Dua’. Setelah hasilnya nyata, beliau memandu masa ‘transisi’ untuk mempersiapkan segala fondasi dengan ‘pikiran’ yang disertai ‘hati’. Beliau sangat pintar, dan kepintaran beliau disertai hati dalam bertindak karena bagi beliau ‘manusia’ adalah yang paling diutamakan, dan cara tepat untuk menyentuh setiap ‘manusia’ adalah dengan tindakan yang dipikirkan secara matang dan dilaksanakan dengan sepenuh hati.
Mungkin, belum banyak orang muda yang mendapatkan kesempatan untuk bersama beliau ‘belajar’ melayani manusia di ujung-ujung negeri. Kami tidak melihat apa fasilitas di sana dan apa sumber daya alam di sana, tapi yang kami cari adalah siapa ‘mutiara’ terpendam di sana. Inilah yang beliau sampaikan, sangat sederhana dan mudah dipahami. Mendidik dengan hati, lulusan dari jurusan apa pun, terbukti sanggup mendidik karena ‘tugas setiap orang terdidik adalah mendidik’ dengan kepintaran dan hati. Kepintaran saja tidaklah cukup.
Ketika beliau memutuskan untuk bergabung dengan kementerian dan melepaskan kami untuk bergerak sendiri, kami merasa ‘kehilangan’. Ya, terkadang mementingkan ‘kami’, sepertinya adalah yang terbaik. Tapi tidak, ‘mereka ‘lebih penting, karena kami juga ada pada ‘mereka’. Beliau mengestafetkan gerakan ini kepada kami yang masih tetap belajar, namun dengan segala kesungguhan serta ‘niat baik’, ada semakin banyak orang muda yang bisa belajar bersama beliau langsung dari ujung negeri. Ini yang namanya berkelanjutan, menyentuh manusia dan manusialah yang kemudian bergerak melanjutkannya.
Setelah 5 tahun menggerakkan daerah yang sama, kini, daerah tersebut sudah jauh lebih maju ‘manusianya’ dan ini yang akan membuat mereka terlepas dari ‘bangsa jajahan’. Baik jajahan dari para penjajah senegeri maupun luar negeri. Miris, melihat Kalimantan, yang dulu kaya akan sumber daya alam dan hutan, melihat Papua yang kaya akan minyak bumi dan tambang, sekarang...... Mengapa bisa terjadi, perlu dipelajari. Tapi kini, kitalah yang harus mencari solusinya. Tanah, air, hutan dan sungai tak mampu kembali ‘membaik’ tanpa adanya dukungan manusia. Mereka benda mati, karenanya, pendekatan yang paling tepat adalah dengan ‘manusianya’. Membuka pikiran, bersama-sama bergerak berlandaskan Pancasila (tidak hanya hafal Pancasila, namun tidak dijalankan), berbuat untuk ‘mereka’ maka, tujuan baik akan tercapai.
Di luar sana, negara maju, pemerintah benar-benar diawasi oleh masyarakat. Segala kebijakan yang kurang berkenan langsung mendapat sorotan masyarakat, tidak bisa seenaknya ‘membodohi’ lagi. Masyarakatnya sudah lebih pintar dan berani mencari jalan agar tahu, sehingga tidak ada yang bisa ditutup-tutupi. Di sini, mungkin hanya di beberapa kota besar saja yang sudah bisa sekritis itu masyarakatnya. Di berbagai sudut Indonesia yang masih sangat luas, mereka sengaja dibuat ‘tidak tahu’ dan jangan sampai tahu, agar tetap bisa ‘dibohongi’. Ini yang harus dibasmi, dan ini adalah salah satu gebrakan meliau, membuat mereka tahu, dengan proses yang bertahap.
Mungkin, ada pendapat-pendapat yang menyatakan, dalam kementerian beliau belum tampak gebrakan-gebrakan hebat yang beliau lakukan. Jangan lihat sekarang, lihat nanti. Inilah perbedaannya, beliau bergerak untuk manusia (butuh proses) karena terkadang ‘hati’ manusia lebih keras dari baja, dan pikiran manusia tertutup rapat oleh ‘keangkuhan’ serta ‘keserakahan’. Lalu menanamkan rasa ‘untuk mereka’ tidaklah mudah dan tak dapat terlihat langsung dengan kasat mata. Tidak seperti berbagai proyek pembangunan transportasi, infrastruktur, serta pengadaan kartu-kartu yang dapat dilihat serta disentuh. Itulah sebabnya, kita tidak dapat langsung saja menilai hasil kinerja setiap kementerian dengan instrumen yang sama. Ada kementerian yang mengatur benda-benda tidak bernyawa, ada pula yang memanusiakan manusia, seperti apa yang dilakukan beliau selama ini. Bagi yang menilai dari segi materialistis, segala yang beliau kerjakan mungkin tidak terlihat. Namun bagi yang melihat nilai ‘kemanusiaan’ maka semua jawaban terpancar dari ‘mereka’ yang sudah belajar, seperti saya, dia, kami serta mereka. Bekal ini, tidak hanya sekedar ‘sembako yang sehari dipakai habis, tapi bekal ini menjadikan kami bisa ‘berpikir’ dan menjaga ‘niat baik’. Sederhana. Semua berkelanjutan. Bukan dari beliau lagi, tapi dari kami kepada dia, dia kepada mereka, dan selanjutnya. Sekali lagi, sederhana.
Ini menarik, sering kali para pemegang kekuasaan membicarakan mengenai ‘kebijakan’ berkelanjutan. Tapi sejauh ini, belum banyak ‘kebijakan’ yang bisa berjalan, menyebar, serta menyentuh sungguh-sungguh ‘mereka’. Jika sudah, mengapa di ujung sana, hutan ‘heterogen’ semakin banyak terus ditebangi dan dijadikan hutan ‘homogen’. Jika sudah, mengapa di ujung sana tanah semakin tergali untuk segala hasil tambangnya namun manusianya tetap membudak. Jika sudah, mengapa air sangat berlimpah saat hujan dan pergi entah ke mana saat kemarau tiba. Mungkin, karena yang tersentuh bukanlah ‘manusianya’, sementara mereka yang tak bernyawa sangat bergantung pada siapa yang menjadikan mereka ‘bermanfaat’.
Saat itu, seiring dengan berjalannya Gerakan Indonesia Mengajar beserta gerakan-gerakan lainnya yang konsisten, kami hantarkan dukungan serta doa tulus untuk segala tugas baru yang beliau emban dalam mewujudkan visi dan misi Pak Presiden. Kini, belau sudah berjalan cukup jauh, dengan segala ‘kebaikan’ yang beliau tanamkan. Terima kasih Pak, untuk segala usaha serta pelayanan yang Bapak berikan. Semoga roda pemerintahan Pak Jokowi tetap berjalan lebih baik bersama dengan pribadi-pribadi hebat lainnya. Tujuan kita sama, untuk Indonesia. Siapa pun yang memegang kendali, dari mana pun kita bergerak, dan dalam bidang apa pun gerakan itu, asal dengan ‘niat baik’, semoga berkenan. Sekarang sudah cukup, kami yakin, beliau sudah jauh dari cukup ikut bergerak dan menggerakkan roda pemerintahan untuk saat ini. Pikiran beliau yang jauh lebih luas dan dahsyat perlu ‘dikristalkan’ untuk mempersiapkan langkan selanjutnya yang lebih baik dan lebih besar lagi. Kami tunggu Pak, kami dukung. This is the real world. We are ready to learn more from you, from many other aspects, as how you teach us to do.
Sekali lagi, welcome to the world, Pak Guru.

With love,
Angela
'Memanusiakan Manusia'

Siswa-Siswi SD Negeri Wayatim, Halmahera Selatan sedang berdoa sebelum menghadapi Ujian Nasional - Indonesia Mengajar Angkatan V

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Borneoku Sayang..... Borneoku Malang....” Tanah Kalimantan - Catatan 26 Juli 2013