"Mimpi Kecil" Indonesia Mengajar - Catatan 21 Juli 2013
“Perihal seorang anak kecil yang sedang mencoba menyentuh tetes hujan ‘tuk sejukkan hatinya.....”
Sore itu, seperti biasa... ku selesaikan agenda harianku selama berada di Ibu Kota Indonesia ini. Ku persiapkan ielts-ku dengan semaksimal mungkin dan sebisa ku. Ku habiskan waktuku untuk berkutat di kamar dan sesekali berinterakksi dengan sahabat-sahabatku yang hanya bisa ku jangkau melalui media sosial.
Jakarta, sungguh membuatku sedikit kaget. Selama ini, aku belum pernah mencoba untuk belajar atau pun bekerja di Jakarta. Aku menyelesaikan studi terakhirku di Yogyakarta, kota istimewa dan memang sungguh istimewa, damai dan tenang. Semua terasa sesaat setelah aku mengangkat kaki dari sana.
Ku ambil masa cutiku dalam Program Indonesia Mengajar ini, untuk mengikuti test ielts dan aku sangat merindukan kedua orang tuaku, yang pada awal berangkatku, melepasku dengan sangat berat hati. Aku rindu mereka, aku ingin melihat senyum mereka ketika aku berangkat ke Maluku Utara lagi nantinya. Aku ingin mereka melihat, bahwa apa yang ku kerjakan bukanlah hal yang merugikan. Tidak ada listrik, mengapa tidak? Di sana, mereka, anak-anak didikku sungguh menikmati malam hari berbintang laksana berada di Planetarium dan Observatorium, tanpa polusi cahaya sedikitpun. Tak ada signal, mengapa tidak? Justru dengan tidak adanya signal kedekatan antar pribadi di sekeliling kita menjadi lebih erat. Tidak ada kendaraan, mengapa tidak? Perbedaannya hanyalah aku harus berkendara menggunakan motor air dari pulau ke pulau, mengarungi lautan yang sering kali ditemani puluhan, bahkan ratusan lumba-lumba melompat girang di laut lepas dan luas. Sungguh indahnya Indonesia, sangat menyenangkan hati setelah aku merasakan berada di salah satu kepulauan kecil Indonesia ini. Indonesia yang sungguh kaya akan pulau, perairan dan segala aspek buminya. Aku, bangga pada Mu.
Begitu banyak pertanyaan yang muncul di benakku tentangmu Indonesiaku. Sungguh, ini awal yang sangat tepat untukku belajar. Ini awal yang sangat luar biasa untukku berbagi dengan anak bangsa yang ada di sana. Yang lebih penting lagi, ini adalah awal untukku membuka mata akan Indonesia pada kenyataannya. Semangat Indonesia Mengajar membentuk pribadi yang kelak akan menjadi salah satu pejuang Indonesia dalam bidang apa pun dengan ‘Grassroot Understanding but Worldclass Competence’ sungguh membuatku sangat bersemangat untuk mengejar mimpiku.
Sungguh, aku tak bisa mengukir kata-kata untuk menyatakan betapa bahagianya anak-anak didik di pelosok negeri ini bisa mendapatkan sentuhan guru-guru muda yang mengajar mereka dengan sepenuh hati dan semangat. Serta guru-guru di sana pun, sangat ingin berbagi dengan kita. Pada akhirnya, kita saling berbagi dan belajar di sana. Masyarakat desa yang dengan tak terduganya membuatku terharu. Begitu sering aku menerima telfon dan sms yang selalu mengingatkanku untuk segera kembali ke desa bersama mereka. Aku pasti akan kembali serta meng-update diriku untuk menjadi lebih baik bagi mereka. “Ibu Enjel, segera kembali ya. Anak-anak bangsa di Desa Wayatim sangat membutuhkanmu.” Tanpa sengaja tetes air mata ku pun jatuh sesaat aku membaca sms ini, tepatnya beberapa menit setelah pesawatku mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta. Tersentak hatiku, ketika terlintas suasana pertama kali upacara pelepasan Pengajar Muda V oleh Pak Anies Baswedan tepat di bandara tersebut. Untaian kata penuh motivasi yang mengingatkan perjuangan Soekarno-Hatta untuk merebut kemerdekaan Indonesia serta dorongan yang beliau berikan kepada kami untuk sedikit berjuang ‘melunasi janji kemerdekaan Indonesia’ membuatku tertegun, diam sejenak. Nyatalah, segala yang ku lakukkan, sekecil apa pun itu, tak pernah sia-sia bagi mereka.
Aku selalu mengajak tiap anak didikku untuk berani bermimpi. Walau mereka hanya dari desa kecil, namun tak kan ada yang bisa menghentikan mereka untuk berani bermimpi dan mengejar mimpi mereka. Laksana ‘seorang anak kecil, yang mencoba mempertajam indra pendengar serta peraba-nya untuk berjalan menuju tetesan air hujan. Dengan tenang dan terus maju, ia menyentuh setiap benda yang ada di selilingnya. Di sepanjang jalan yang ia tempuh, kadang terjatuh, menyentuh sesuatu yang melukainya, dan menginjak kerikil tajam, ia tak mematahkan semangatnya. Ya, kebutaannya tak membuatnya patah semangat untuk terus maju, mendapatkan tetes air hujan yang menyejukkan hatinya. Semua itu akan dapat ia lakukan dengan semangat dan dorongan hati yang teguh, tulus dan ihklas. Inilah yang membuatku begitu banyak belajar dari mereka.
Kini, tinggal bagaimana caranya untuk memandang setiap peluang yang ada di depan mata, yang bisa menuntun kita pada tiap mimpi yang kita kejar. Jangan takut, jangan ragu. Tak ada sesuatu yang mustahil. Jika salah, tak mengapa. Justru dengan salah kita belajar, bahkan menjadi tahu dan menemukan jawabnya. Hargai setiap usaha yang telah kita lakukan, walaupun itu gagal, tetap kita sudah berusaha, dan itu hal yang patut dibanggakan. Coba lagi dengan usaha yang lebih, dan jangan menyerah, lihatlah hasilnya menjadi nyata dan jauh lebih baik.
Walau, dalam keadaan saat ini, sungguh sulit menempatkan hati secara tulus demi mengabdi pada Indonesia. Namun, aku yakin dengan terus tegar di jalan yang benar dan tetap berusaha semaksimal mungkin untuk belajar berbuat tulus ikhlas demi mereka, pasti akan banyak lilin-lilin yang menyala. Bahkan lampu neonpun akan senantiasa memberi cahaya terang bagi jalan menggapai mimpi.
***
Tuhan selalu mengajarkan umatnya untuk bersabar dalam setiap perngharapan dan terus berserah pada-Nya. Mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, akal budi dan kekuatan serta mengasisi sesama seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Ini akan membuat hati kita lebih damai.
Tuhan, tuntunlah kami, anak bangsa ini dalam setiap langkah, semoga kasih Mu sungguh nyata pada kami. Tuhan memberkati kita semua. Amin.



Komentar
Posting Komentar